Modus Licik dan Kendala Birokrasi Hambat KKP Tangkap Kapal Asing Pengeruk Pasir

Foto: Ilustrasi Pasir Laut

KKP Kesulitan Tangkap Kapal Asing Pengeruk Pasir Laut: Ini Alasan dan Tantangannya

KBO-BABEL.COM (Jakarta) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menghadapi tantangan besar dalam menangkap kapal asing yang terindikasi mengeruk pasir laut di perbatasan wilayah Indonesia. Praktik ilegal ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak tahun 2023, namun hingga saat ini KKP belum berhasil menangkap para pelakunya. Sabtu (22/6/2024)

Direktur Pengawasan Sumber Daya Kelautan KKP, Halid K Jusuf, mengungkapkan berbagai kendala yang dihadapi dalam upaya penangkapan kapal-kapal asing tersebut.

Bacaan Lainnya

Menurut Halid, salah satu kendala utama adalah modus operasi kapal asing yang licik dan sigap. Pada awal Juni lalu, KKP mendapatkan laporan mengenai dua kapal asing yang terdeteksi mengeruk pasir di perbatasan laut Indonesia.

Namun, begitu dilakukan pengejaran, kapal-kapal tersebut segera melarikan diri ke wilayah lain. Hal ini semakin diperparah karena lokasi pengerukan yang berada di perbatasan, membuat kapal-kapal tersebut mudah melarikan diri ke wilayah yang berbeda.

“Teman-teman di pangkalan lagi siap-siap. Kalau misalnya dia dapat, udah kecium operasi kita mereka segera menyingkir. Mereka biasanya berada di perbatasan supaya gampang bergeser,” kata Halid kepada media, Jumat (21/6/2024).

Halid menjelaskan, pihaknya sering kali tidak dapat mengejar kapal-kapal tersebut ketika mereka sudah melarikan diri ke wilayah lain. Keterbatasan ini disebabkan oleh aturan nasional yang membatasi kemampuan KKP untuk memasuki perairan negara lain tanpa adanya kerja sama resmi.

“Kita ada patroli pengawasan secara rutin kita lakukan. Laut kita kan luas, kita tidak mungkin menyisir seperti gergaji yaa. Modusnya macam-macam. Karena di perbatasan nanti kita kena pelanggaran berdaulat. Kita nggak bisa masuk perairan kita apalagi untuk masalah keamanan, masuk ke negara lain ada aturannya,” jelas Halid.

Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi pengerukan di perbatasan juga menjadi kendala signifikan. Halid menyebut, diperlukan waktu hingga 1-2 jam untuk sampai di lokasi pengerukan. Kondisi ini semakin diperparah dengan lambatnya proses penyampaian laporan.

“Kebanyakan kita mendapatkan laporan setelah 2-3 hari baru sampai ke kita. Pada saat kita melakukan kegiatan patrolinya sudah tidak ada. Ibaratnya main kucing-kucingan,” tambahnya.

Meskipun demikian, KKP tidak menyerah dalam menghadapi tantangan ini. Halid menegaskan bahwa pihaknya kini telah dilengkapi dengan peralatan teknologi yang canggih sehingga mampu mendeteksi kapal yang memasuki perairan Indonesia. Teknologi ini diharapkan dapat mempercepat respon dan penindakan terhadap kapal-kapal asing yang melakukan pengerukan pasir secara ilegal. (KBO-Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *