Asep Maryono Ungkap Skandal Korupsi Tambang Ilegal di Bangka Belitung

Foto: Asep Maryono Ungkap Skandal Korupsi Tambang Ilegal di Bangka Belitung

Asep Maryono Ungkap Korupsi Pertambangan di Bangka Belitung dalam 14 Bulan Jabatan

KBO-BABEL.COM (Jakarta) – Saat pertama kali bertugas sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung (Kajati Babel) awal tahun lalu, Asep Maryono segera dihadapkan pada kenyataan pahit kerusakan alam yang parah akibat penambangan timah ilegal. Dari atas pesawat, Asep bisa melihat lubang-lubang menganga di tanah Bangka Belitung, hasil dari aktivitas penambangan yang tidak terkendali. Kamis (13/6/2024)

Kerusakan ini tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga menunjukkan bagaimana kekayaan alam Bangka Belitung tidak digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, sumber daya alam ini dieksploitasi oleh sejumlah oknum untuk memperkaya diri sendiri.

Bacaan Lainnya

Dalam 14 bulan masa baktinya, Asep yang kini berusia 59 tahun berhasil membuat terobosan dalam penyidikan kasus tambang ilegal. Sebagai alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (FH Unsoed), Asep mengumpulkan data dan pendapat dari berbagai ahli hukum pidana, pertambangan, dan kehutanan.

Ia bekerja keras merumuskan formula yang memungkinkan aktivitas penambangan ilegal diklasifikasikan sebagai tindak pidana korupsi karena adanya kerugian negara.

“Saya mengumpulkan berbagai pendapat dan masukan dari para ahli. Termasuk di dalamnya ada ahli hukum pidana, ahli pertambangan, dan hutan. Kita coba ramu formula dan temukan alat ukurnya supaya illegal mining ini bisa menjadi kasus korupsi karena ada kerugian negara di situ. Dari hasil diskusi dengan para ahli saya mendapatkan secercah harapan,” ujar Asep.

Untuk mengatur strategi hukum yang tepat, Asep berkonsultasi dengan Guru Besar Hukum Acara Pidana Unsoed, Prof Hibnu Nugroho. Namun, perjuangannya tidak mudah.

Salah satu hambatan datang saat seorang pria berseragam mendatangi kantornya dan meminta agar penyidikan dihentikan, yang Asep anggap sebagai ancaman.

Ancaman yang diterima tidak hanya ditujukan kepada dirinya tetapi juga kepada keluarganya. Istrinya mengalami sakit kulit misterius yang diduga akibat ilmu hitam, dengan hasil diagnosa yang berbeda dari tiga dokter.

Untuk sementara waktu, Asep meminta istrinya tidak datang ke Bangka Belitung. Setelah mendapatkan pengobatan di Purwokerto, kondisinya membaik.

Selama masa baktinya, Asep dikenal tidak gentar mengusut kasus korupsi yang melibatkan nama-nama besar.

Salah satunya adalah dugaan tindak pidana korupsi oleh PT NKI atas pemanfaatan kawasan hutan negara di hutan produksi seluas 1.500 hektare di Desa Air Labuh dan Desa Kota Waringin.

Kasus ini melibatkan mantan Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan, yang saat ini sedang diperiksa tim penyidik. Pada tahun 2018, Erzaldi selaku gubernur menandatangani izin kerja sama pemanfaatan kawasan hutan dengan PT NKI untuk berkebun pohon pisang.

Namun, izin tersebut disalahgunakan untuk aktivitas tambang ilegal dan praktik jual beli lahan di kawasan hutan produksi tersebut.

Asep tidak asing dalam menangani kasus pejabat tinggi. Pada tahun 2016, saat berdinas sebagai Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejati Maluku Utara, ia menangani kasus korupsi Vaya Amelia Armaiyn, puteri mantan Gubernur Maluku, terkait anggaran harmonisasi Rancangan Tata Ruang Wilayah senilai Rp 2,2 miliar.

Vaya dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Asep juga menangani kasus korupsi mantan Gubernur Maluku, Thayib Armain, terkait korupsi Dana Tak Terduga tahun 2004 dengan kerugian negara sekitar Rp 8 miliar.

Dalam menangani kasus PT NKI, Asep menyatakan tidak terganggu oleh hubungan pribadinya dengan mantan Gubernur Erzaldi.

“Saya bilang saya memang kenal dengan Pak Gubernur ya nggak masalah. Tidak menghalangi saya untuk silaturahmi tapi juga tidak menghalangi saya untuk melaksanakan tugas,” tegas Asep.

Kinerja Asep yang tegas dan berani mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Reza Hanapi, seorang jurnalis Bangka Belitung, mengapresiasi ketegasan Asep dalam menyidik kasus besar tanpa pandang bulu.

“Semasa Bapak Asep Maryono menjabat yang hanya 14 bulan sebagai Kajati di Bangka Belitung mampu membuat terobosan penyidikan pertambangan ilegal, kehutanan hingga perkebunan yang awalnya dari pidana umum menjadi pidana Tipikor. Begitu juga dengan penetapan tersangkanya kelas kakap bukan ecek-ecek. Sungguh penegakan hukum yang tidak pandang bulu. Semua berkat ketegasan dan nyali besar beliau walau ini di ujung jabatannya,” ujar Reza.

Kini, setelah masa baktinya yang singkat namun penuh prestasi di Babel, Asep Maryono ditugaskan sebagai Kepala Biro Perlengkapan pada Jaksa Agung Muda bidang Pembinaan Kejagung di Jakarta.

Dalam waktu singkat, Asep telah meninggalkan jejak signifikan dalam upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di Bangka Belitung. (KBO-Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *