Dominasi Dolar AS: Rupiah Terpuruk di Rp 16.200-an, Presiden Jokowi “ketar-ketir”

Foto: Presiden Jokowi

Dolar AS Terus Memperkokoh Dirinya di Tengah Rupiah yang Tak Berdaya

KBO-BABEL.COM (Jakarta) – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan kekuatannya dengan nilai tukar yang semakin kokoh di zona Rp 16.200-an. Data terbaru menunjukkan bahwa pada hari Rabu, 6 Juni 2024, dolar AS menguat 54 poin atau naik 0,33%, mencapai level Rp 16.269. Jumat (7/6/2024)

Ini merupakan nilai tertinggi dalam beberapa waktu terakhir, dengan kisaran harga antara Rp 16.214 dan Rp 16.272. Meskipun dolar AS masih menghadapi beberapa pelemahan terhadap mata uang tertentu seperti franc Swiss, yuan China, yen Jepang, dan dolar Taiwan, namun secara keseluruhan, dolar AS terus menunjukkan dominasinya.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, rupiah Indonesia justru mengalami nasib yang jauh lebih buruk. Mata uang Garuda hanya mampu menguat terhadap satu mata uang, yakni yen Jepang, sementara sisanya rupiah terpuruk.

Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi pemerintah, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi tersebut.

Dalam sebuah pernyataan di Istora Senayan, Jakarta, pada Senin, 27 Mei 2024, Jokowi mengungkapkan perasaan atas kenaikan nilai tukar dolar AS yang mencapai Rp 16 ribu.

Bahkan, saat dolar AS menyentuh angka Rp 16.200, Jokowi mengaku merasa “ketar-ketir”. Beliau menyoroti dampak dari pergerakan kurs dolar AS terhadap ekonomi domestik, di mana kenaikan nilai dolar AS dapat menyebabkan kenaikan harga barang secara keseluruhan.

“Ini yang ditakuti negara-negara, semua negara, kurs,” ujar Jokowi.

Peningkatan nilai dolar AS juga mempengaruhi kinerja pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini mengalami fluktuasi, dibuka dengan kenaikan namun kemudian berbalik menuju zona merah.

IHSG dibuka pada level 7.099, namun tidak lama berselang, turun ke level 7.071. Dari data perdagangan, tercatat 151 saham mengalami kenaikan, 210 saham mengalami penurunan, dan 165 saham stagnan.

Dengan pergerakan yang dinamis di pasar keuangan, pemerintah Indonesia dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Kenaikan nilai dolar AS terhadap rupiah menjadi salah satu isu krusial yang harus segera diatasi demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

Sebagai negara berkembang dengan tantangan ekonomi yang kompleks, Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi fluktuasi pasar global. Kebijakan moneter yang tepat serta reformasi struktural menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini.

Dengan demikian, Indonesia diharapkan dapat mengatasi ketidakpastian ekonomi dan memperkuat fondasi ekonomi domestik untuk masa depan yang lebih stabil dan berkelanjutan. (KBO-Babel/tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *