DPK Melonjak Tajam Setelah Dikritik Jokowi: Likuiditas Bank Indonesia Menguat

Foto: Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ditengah Kekhawatiran Likuiditas, Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Indonesia Melonjak Tajam

KBO-BABEL.COM (Jakarta) – Presiden Joko Widodo, dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) pada tanggal 29 November 2023, menyuarakan kekhawatiran mengenai kondisi likuiditas di Indonesia. Meskipun pertumbuhan ekonomi Tanah Air mencapai lebih dari 5%, Jokowi mengamati bahwa peredaran uang semakin kering. Selasa (28/5/2024)

Dia menyalahkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) karena menerbitkan terlalu banyak instrumen keuangan seperti Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).

Bacaan Lainnya

Kekhawatiran Presiden Jokowi ini tidak tanpa dasar. Data menunjukkan bahwa sejak awal tahun, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) melambat secara signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada Desember 2022, dana masyarakat yang disimpan di bank tumbuh 9,4% secara tahunan menjadi Rp 7.929,5 triliun.

Namun, pada pertengahan tahun 2023, gejala seretnya pertumbuhan DPK semakin terlihat, dengan pertumbuhan hanya mencapai 6,4% yoy. Bahkan pada akhir Desember 2023, pertumbuhan DPK hanya naik 3,8% yoy menjadi Rp 8.234,2 triliun.

Namun, berita baik datang lima bulan setelah pernyataan Jokowi tersebut. DPK industri perbankan di Indonesia tiba-tiba melonjak secara signifikan. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan DPK sebesar 8,21% yoy per April 2024, yang merupakan yang tertinggi sejak Desember 2022.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pertumbuhan DPK ini memainkan peran penting dalam menjaga likuiditas bank untuk memastikan kelanjutan ekspansi kredit.

Menurut Perry, likuiditas yang kuat tercermin dari Angka Likuiditas (AL) dibandingkan dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tercatat tinggi, mencapai 25,62%.

Suku bunga perbankan juga stabil per April 2024, walaupun era suku bunga tinggi masih bertahan. Suku bunga deposito dan kredit masing-masing adalah 4,59% dan 9,25%, relatif stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Perry juga menjelaskan bahwa suku bunga kredit menurun sedangkan bunga simpanan naik per Maret 2024. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit turun menjadi 9,25% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 9,28%.

Sementara itu, bunga deposito untuk tenor 6 bulan, 12 bulan, dan 24 bulan masing-masing adalah 5,69%, 5,83%, dan 3,94%, mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya.

Pada periode yang sama, BI mencatat pertumbuhan kredit sebesar 13,09% yoy per April 2024. Permintaan kredit yang tinggi dipengaruhi oleh kinerja baik dari sisi penawaran dan permintaan.

Bank-bank didukung oleh permodalan yang kuat dan pertumbuhan kredit didorong baik oleh sektor korporasi maupun rumah tangga. Kredit untuk investasi, modal kerja, dan konsumsi masing-masing tumbuh 15,69% yoy, 13,25% yoy, dan 10,34% yoy.

Kesimpulannya, meskipun kekhawatiran awal terhadap likuiditas, kondisi pasar keuangan Indonesia pada April 2024 menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Pertumbuhan DPK yang kuat dan stabilnya suku bunga perbankan memberikan dasar yang baik bagi kelanjutan ekspansi kredit dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (KBO-Babel/tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *