Transparansi untuk Keadilan: Kejaksaan Agung Menghadirkan Keterbukaan Informasi dalam Melindungi yang Paling Rentan

Suatu panggilan tegas bagi keadilan berkumandang di Hotel Grandhika, Kebayoran Baru, Jakarta, ketika Kejaksaan Agung mengadakan acara penerangan hukum yang memfokuskan pada "Keterbukaan Informasi Publik untuk Mencegah Terjadinya Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan (Khususnya Penyandang Disabilitas)", Jumat (24/5/2024). Dibuka oleh Jaksa Agung Muda Intelijen, Prof. Dr. Reda Manthovani, acara ini bukanlah sekadar pertemuan biasa. Ini adalah titik temu antara kekuatan hukum dan masyarakat, sebuah langkah nyata dalam memberikan perlindungan yang lebih baik bagi mereka yang rentan. Dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas, pekerja sosial, aktivis hak asasi manusia, jurnalis, dan pendidik, acara ini menjadi wahana bagi pembelajaran dan penggerakkan.
Foto : Ketua Komisi Informasi Pusat, Dr. Donny Yoesgiantoro, M.M., M.PA. saat menerima cinderamata dari JAM Inteligen Kejagung RI

Memecah Kegelapan, Melindungi Rentan: Langkah Kejaksaan Agung dalam Mencegah Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Penyandang Disabilitas

KBO-BABEL.COM (Jakarta),  – Suatu panggilan tegas bagi keadilan berkumandang di Hotel Grandhika, Kebayoran Baru, Jakarta, ketika Kejaksaan Agung mengadakan acara penerangan hukum yang memfokuskan pada “Keterbukaan Informasi Publik untuk Mencegah Terjadinya Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan (Khususnya Penyandang Disabilitas)”, Jumat (24/5/2024).

Dibuka oleh Jaksa Agung Muda Intelijen, Prof. Dr. Reda Manthovani, acara ini bukanlah sekadar pertemuan biasa. Ini adalah titik temu antara kekuatan hukum dan masyarakat, sebuah langkah nyata dalam memberikan perlindungan yang lebih baik bagi mereka yang rentan.

Bacaan Lainnya

Dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas, pekerja sosial, aktivis hak asasi manusia, jurnalis, dan pendidik, acara ini menjadi wahana bagi pembelajaran dan penggerakkan.

KBO-BABEL.COM (Jakarta),  - Suatu panggilan tegas bagi keadilan berkumandang di Hotel Grandhika, Kebayoran Baru, Jakarta, ketika Kejaksaan Agung mengadakan acara penerangan hukum yang memfokuskan pada "Keterbukaan Informasi Publik untuk Mencegah Terjadinya Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan (Khususnya Penyandang Disabilitas)", Jumat (24/5/2024).Dibuka oleh Jaksa Agung Muda Intelijen, Prof. Dr. Reda Manthovani, acara ini bukanlah sekadar pertemuan biasa. Ini adalah titik temu antara kekuatan hukum dan masyarakat, sebuah langkah nyata dalam memberikan perlindungan yang lebih baik bagi mereka yang rentan.
Foto : Jaksa Agung Muda Intelijen, Prof. Dr. Reda Manthovani

Narasumber berpengalaman seperti Yustitia M. Arief dari Advokasi Inklusi Disabilitas (AUDISI) Foundation memberikan wawasan mendalam tentang tantangan yang dihadapi oleh mereka yang berkebutuhan khusus.

Dr. Ketut Sumedana, Kepala Pusat Penerangan Hukum, menggarisbawahi pentingnya peran pemerintah dalam melindungi anak-anak dan perempuan dari segala bentuk kekerasan. Dengan mengacu pada undang-undang yang ada, seperti Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita dan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2021 tentang Perlindungan Khusus Anak, Dr. Sumedana menekankan bahwa kebijakan ini adalah komitmen pemerintah yang harus ditegakkan dengan sungguh-sungguh.

Namun, kebijakan tanpa transparansi tidak lebih dari sekadar kata-kata kosong. Keterbukaan informasi menjadi kunci untuk memastikan akuntabilitas dan efektivitas dari langkah-langkah perlindungan yang diambil oleh pemerintah.

Sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2025-2029, pemerintah telah menetapkan perlindungan terhadap anak dan perempuan sebagai prioritas utama.

Foto : Jaksa Agung Muda Intelijen, Prof. Dr. Reda Manthovani, saat memberi sambutan

Sebagai penutup acara, Prof. Dr. Reda Manthovani menegaskan tekad Kejaksaan Agung dalam menegakkan keadilan bagi semua warga negara, tanpa terkecuali. Cinderamata yang diberikan kepada Ketua Komisi Informasi Pusat, Dr. Donny Yoesgiantoro, M.M., M.PA., menjadi simbol dari komitmen bersama dalam memecahkan kegelapan dan melindungi mereka yang paling rentan di tengah-tengah kita.

Acara ini bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, tetapi awal dari sebuah gerakan. Kita semua, sebagai bagian dari masyarakat yang inklusif, memiliki tanggung jawab untuk berdiri bersama dalam melindungi hak-hak dasar setiap individu.

Dengan keterbukaan informasi sebagai senjata utama, kita dapat membangun dunia yang lebih aman, adil, dan berdaya bagi semua, khususnya bagi anak-anak dan perempuan, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. (KBO Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *