Kontroversi Pungutan Perpisahan di SMP 2 Pangkalpinang: Orang Tua Siswa Keberatan dengan Biaya Rp 300 Ribu

Foto: SMP Negeri 2 Pangkalpinang

Kontroversi Pungutan Perpisahan di SMP 2 Pangkalpinang: Keluhan Orang Tua Siswa atas Biaya Rp 300 Ribu

KBO-BABEL.COM (Pangkalpinang) – Berita yang membuat geger terjadi di Pangkalpinang dengan dugaan pungutan liar yang menimpa Orang Tua Siswa di SMP 2 Pangkalpinang menjelang acara perpisahan. Berita ini menimbulkan keprihatinan mendalam terutama di tengah kesulitan ekonomi yang dirasakan banyak orang tua siswa. Senin (20/5/2024)

Orang tua siswa mengutarakan keberatan mereka terhadap pungutan sebesar Rp 300 ribu per siswa untuk acara perpisahan. Jumlah tersebut dianggap sangat memberatkan, terutama dalam kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini.

Bacaan Lainnya

Seorang orang tua murid yang bekerja sebagai kuli bangunan menyampaikan keberatannya, merasa bahwa keputusan tersebut tidak mempertimbangkan kondisi keuangan keluarga mereka yang terbatas.

Mereka membenarkan bahwa keputusan untuk melakukan pungutan sebesar itu sudah disetujui dalam rapat antara orang tua dan pihak sekolah untuk acara perpisahan siswa. Namun, orang tua siswa yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah merasa bahwa keputusan ini tidak memperhatikan kondisi keuangan mereka yang mengalami kesulitan.

“Pekerjaan kami tidak menentu, dan kami berusaha keras agar anak-anak kami tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok mereka,” ujar salah satu orang tua yang meminta agar identitasnya dirahasiakan.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh orang tua lainnya, yang meskipun mampu membayar pungutan tersebut, tetap merasa bahwa tindakan sekolah tidaklah bijaksana. Mereka berpendapar bahwa sebagai institusi pendidikan, sekolah tidak seharusnya melakukan tindakan yang membebani orang tua siswa.

Seorang warga juga mengingatkan bahwa menurut aturan dari Dinas Pendidikan sendiri, pungutan dalam bentuk apapun dilarang.

“Jika dipungut sebesar itu (Rp 300 ribu), kami benar-benar tidak mampu,” ucapnya dengan terbata-bata.

Menurutnya uang sejumlah itu sangat penting untuk membeli keperluan yang lebih penting seperti membeli beras dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, sebagai orang tua, mereka juga harus mempertimbangkan biaya untuk melanjutkan pendidikan anak ke tingkat atas, seperti seragam dan kebutuhan lainnya.

Pihak sekolah mengakui adanya pungutan tersebut, namun menolak menyebutnya sebagai pungutan liar. Mereka menyatakan bahwa keputusan ini diambil dengan dukungan dari paguyuban.

“Sekolah tidak mengambil keputusan tentang acara perpisahan ini secara sepihak, tetapi karena mendapat dukungan dari paguyuban,” ungkap seorang perwakilan sekolah.

Ranti, salah satu perwakilan pihak sekolah, meminta awak media untuk mengunjungi sekolah langsung guna berkomunikasi mengenai masalah ini.

Di sisi lain, pihak Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang telah mendengar keluhan dari orang tua terkait dugaan pungutan liar ini. Namun, sikap dari pihak Dinas terhadap masalah ini belum jelas.

Dari penelusuran, jumlah siswa yang akan mengikuti acara perpisahan mencapai 387 orang. Jika masing-masing siswa dipungut sebesar Rp 300 ribu, maka total uang yang terkumpul mencapai Rp 116.100.000.

Situasi ini menandai sebuah ketegangan antara pihak sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat umum, serta menimbulkan pertanyaan tentang keterbukaan dan transparansi dalam proses pengambilan keputusan sekolah.

Konflik ini juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga dalam kebijakan sekolah. Semoga dengan dialog terbuka antara semua pihak, solusi yang adil dan bermartabat dapat ditemukan. (KBO-Babel/tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *