Hashim Djojohadikusumo: Jejak Tambang Sebelum Investasi Pabrik Timah Rp400 Miliar

Foto: Hashim Djojohadikusumo, Komisaris Utama Arsari Group

Hashim Djojohadikusumo: Perjalanan Adik Prabowo di Bidang Tambang Sebelum Investasi Pabrik Timah Rp400 Miliar

KBO-BABEL.COM (Jakarta) – Hashim Djojohadikusumo, Komisaris Utama Arsari Group dan adik dari Presiden terpilih ke-8, Prabowo Subianto, menegaskan dominasinya dalam sektor tambang dengan investasi baru senilai Rp400 miliar dalam pembangunan PT Solder Tin Andalan Indonesia. Namun, sejarah bisnisnya yang mapan dalam sektor ini melacak jejak panjangnya jauh sebelumnya. Rabu (15/5/2024)

Menurut laporan terbaru dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) yang berjudul “Jejaring Oligarki Tambang & Energi pada Pemilu 2024”, Hashim Djojohadikusumo telah lama berkecimpung dalam industri pertambangan dan energi di Indonesia. Sebagai pemilik dan CEO Arsari Group, Hashim telah memainkan peran kunci dalam berbagai aspek bisnis, termasuk pertambangan timah.

Bacaan Lainnya

Arsari Group, yang didirikan pada tahun 2013, bukan hanya memusatkan perhatiannya pada pertambangan, tetapi juga membentang bisnis di sektor perbankan, agribisnis, perkebunan karet, energi terbarukan, dan teknologi pemanfaatan tenaga air.

Dalam lingkup pertambangan, anak perusahaan Arsari Group, yaitu Arsari Tambang, memiliki sejumlah entitas diantaranya PT Mitra Stania Prima, PT Mitra Stania Kemingking, PT Mitra Stania Bemban, dan PT AEGA Prima. Keempat anak perusahaan ini terlibat dalam rangkaian aktivitas mulai dari eksplorasi hingga ekspor timah di wilayah Bangka Belitung.

Menurut laporan Jatam, Hashim Djojohadikusumo menjabat sebagai Komisaris Utama PT Arsari Tambang, sementara putranya, Aryo Djojohadikusumo, menjabat sebagai Direktur Utama. Di perusahaan lain dalam jaringan, seperti PT Arsari Pradana Utama dan PT Cahaya Intan, Hashim juga memegang peran penting sebagai Direktur.

Sementara Hashim memainkan peran strategis di berbagai perusahaan dalam jaringan Arsari Group, keluarga Djojohadikusumo secara keseluruhan memiliki kepemilikan saham yang signifikan di berbagai entitas tersebut.

Investasi terbaru Hashim Djojohadikusumo dalam PT Solder Tin Andalan Indonesia menandai langkah berani dalam ekspansi bisnisnya. Dengan fokus pada sektor hilir produk tambang timah, investasi senilai Rp400 miliar ini diyakini akan memperkuat posisi Arsari Group di pasar domestik.

Pembangunan pabrik timah ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas jangkauan bisnis Hashim Djojohadikusumo di sektor tambang yang terus berkembang.

Dinasti Bisnis yang Makin Menggurita

Keluarga Hashim Djojohadikusumo terus mengukir jejaknya dalam dunia bisnis, khususnya sektor pertambangan di Indonesia. Dengan komposisi kepengurusan yang menggabungkan keahlian dan pengalaman, mereka telah membentuk sebuah imperium tambang yang kokoh.

Dalam perusahaan utama mereka, PT Mitra Stania Bemban, Hashim Djojohadikusumo menjabat sebagai Direktur Utama. Bersama dengan Sitie Indrawati Djojohadikusumo sebagai Direktur, Anie Djojohadikusumo sebagai Komisaris Utama, serta anak-anak Hashim, Aryo Djojohadikusumo dan Rahayu Saraswati, yang masing-masing menjabat sebagai Komisaris.

Perusahaan ini memiliki izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi untuk komoditas timah pada lahan seluas 441,6 hektare (ha) berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Tidak hanya itu, jejak keluarga Hashim juga terlihat melalui PT Mitra Stania Kemingking (MSK) yang dipimpin oleh Aryo Djojohadikusumo sebagai Direktur Utama. Perusahaan ini memiliki IUP operasi produksi untuk timah pada lahan 1.206 ha di Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung.

Keluarga Hashim juga memiliki PT Mitra Stania Prima yang memiliki saham mayoritas di PT MSK dan PT Mitra Stania Bemban. Perusahaan tambang timah ini beroperasi di lahan seluas 234 ha di Kabupaten Bangka.

Dalam struktur kepemilikan PT AEGA Prima, Aryo Djojohadikusumo juga berperan sebagai Direktur Utama. Perusahaan ini memiliki konsesi tambang seluas 293 ha di Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Selain itu, Hashim Djojohadikusumo juga terlibat dalam PT Tirtamas Majutama yang memiliki berbagai fokus bisnis, termasuk pertambangan. Meskipun perusahaan ini pernah menjadi pemegang saham di PT Batu Hitam Perkasa yang kemudian diakuisisi oleh PT Toba Bara Sejahtra Tbk, bisnis Hashim terus berkembang.

Arsari Group Merambah Investasi di Sektor Energi Hijau Melalui Kemitraan dengan LanzaTech

Arsari Group, yang dipimpin oleh Komisaris Utama Hashim Djojohadikusumo, telah mengumumkan rencananya untuk memperluas jejak investasinya di sektor energi hijau. Langkah ini diambil setelah kesuksesan ekspansi bisnis mereka ke pabrik olahan timah beberapa waktu lalu.

Kali ini, fokus mereka adalah pada bahan bakar ramah lingkungan atau biofuel, dan mereka telah menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, LanzaTech.

Pada pengumuman resmi yang dilakukan oleh Arsari Group, Hashim Djojohadikusumo menyatakan bahwa LanzaTech telah ditunjuk sebagai penyedia teknologi utama dalam proyek ini.

Arsari Group akan bertindak sebagai klien utama yang memberikan mandat kepada LanzaTech untuk merancang dan membangun pabrik bahan biorefinery yang akan menjadi pusat produksi biofuel mereka.

Sebelumnya, Arsari Group berhasil memperluas jangkauan bisnisnya dengan merambah ke sektor pengolahan timah melalui investasi besar-besaran dalam PT Solder Tin Andalan Indonesia.

Dengan total investasi mencapai Rp400 miliar, pabrik tersebut telah menjadi bagian penting dari infrastruktur industri di Kawasan Industri Tunas Prima Blok B1 No 03, Batu Besar, Kota Batam.

Investasi sebesar Rp400 miliar tersebut terbagi atas dua komponen utama. Pertama, sebesar Rp100 miliar dialokasikan untuk pembangunan fisik pabrik. Kedua, sebesar Rp300 miliar digunakan sebagai modal kerja untuk menjalankan operasional pabrik. Dalam rangka menjalankan operasionalnya, Arsari Group berencana untuk merekrut 80 karyawan tetap serta 200 tenaga kontrak.

Hashim Djojohadikusumo menegaskan bahwa pabrik ini memiliki kapasitas produksi sebesar 200 ton tin solder powder per tahun pada tahap awal. Namun, mereka memiliki rencana ambisius untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 16.000 ton per tahun dengan omzet yang diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun per tahunnya.

Langkah terbaru mereka untuk menjalin kemitraan dengan LanzaTech menandai komitmen Arsari Group dalam mendukung pengembangan teknologi dan industri yang ramah lingkungan. Biofuel yang dihasilkan melalui proses biorefinery akan menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dan bersih dibandingkan dengan bahan bakar fosil konvensional.

LanzaTech dikenal sebagai pemimpin dalam pengembangan teknologi biofuel berbasis karbon yang menggunakan limbah karbonik sebagai bahan baku utamanya. Teknologi ini memungkinkan konversi limbah industri, seperti karbon dioksida dari pabrik-pabrik besar, menjadi bahan bakar yang dapat digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga pembangkit listrik. (KBO-Babel/tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *