Hakim Bebaskan Tersangka Kasus Mafia Tanah, Kejaksaan Terpaksa Terhenti

Foto: Ilustrasi Pengadilan

Isu Mafia Tanah di Belitung Timur: Kasus Tersangka F Terhenti di Sidang Praperadilan

KBO-BABEL.COM (Pangkalpinang) – Dugaan kasus mafia tanah perkebunan di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, yang sedang diselidiki oleh kejaksaan harus terhenti di tengah jalan. Hal ini terjadi setelah Hakim Anshori Hironi dari Pengadilan Negeri Pangkalpinang memutuskan untuk membebaskan tersangka F, yang merupakan direktur dari PT Green Forestry Indonesia (GFI), melalui sidang praperadilan. Rabu (8/5/2024)

Dalam sidang yang berlangsung, F memohon untuk dibebaskan dan mengajukan bahwa penahanan dan penyitaan barang miliknya oleh kejaksaan tidak sah.

Bacaan Lainnya

Hakim Anshori Hironi, sebagai hakim tunggal yang memimpin sidang, menyatakan bahwa status tersangka, penahanan, dan penyitaan barang milik F adalah tidak sah. Dengan demikian, F secara resmi dibebaskan dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Kasus ini bermula ketika tim penyidik kejaksaan menangkap F di Bandara Depati Amir Pangkalpinang pada 25 Maret 2024. F dicegat di bandara dan langsung digelandang ke kantor kejaksaan. Penangkapan tersebut terkait dengan dugaan aktivitas mafia tanah yang dilakukan oleh PT GFI di Desa Tanjung Kelumpang, Belitung Timur.

Menurut keterangan tertulis yang diterima dari kejaksaan, PT GFI memperoleh lokasi perkebunan seluas 600 hektar dengan izin lokasi dari Surat Keputusan Bupati Belitung Timur Nomor 503/001/KEP/BPPT/2012.

Namun, pada kenyataannya, lokasi tersebut telah beralih fungsi menjadi kebun sawit milik PT GFI. Selama melakukan aktivitas di lokasi tersebut, PT GFI diduga belum memiliki Izin Usaha Perkebunan dan belum membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

Kejaksaan menilai bahwa akibat dari aktivitas ilegal tersebut, negara mengalami kerugian sebesar Rp 25,9 miliar. Kerugian tersebut terdiri dari nilai penjualan kayu sebesar Rp 18 miliar dan nilai BPHTB terutang sebesar Rp 7,8 miliar.

Terhadap putusan hakim yang membebaskan tersangka F, tim kejaksaan belum memberikan tanggapan. Namun, keputusan ini memicu pertanyaan tentang efektivitas penegakan hukum terhadap kasus mafia tanah di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang rawan terhadap praktik ilegal seperti ini. (KBO-Babel/tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *