Kuartal Pertama 2024: PT Timah Tbk Meraup Laba Rp69,7 Miliar di Era Ahmad Dani Virsal

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sejak zaman kolonial hingga saat ini, telah menjadi basis ekonomi timah yang penting. Namun, ironisnya, meskipun timah menjadi komoditas utama, dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat Bangka belum dirasakan secara signifikan. Khususnya, kalangan bawah terus mengalami stagnasi ekonomi yang memprihatinkan. Dalam keadaan seperti ini, terkuak dugaan serius bahwa PT. Timah, perusahaan plat merah yang dipercaya oleh pemerintah pusat, terlibat dalam kegiatan kriminal bersama mafiah timah. Selasa (19/3/2024).
Foto : Kantor PT Timah Tbk

PT Timah Tbk Raih Kenaikan Laba di Bawah Kepemimpinan Ahmad Dani Virsal: Laba Bersih Kuartal Pertama Mencapai Rp69.7 Miliar

KBO-BABEL.COM (Pangkalpinang) – PT Timah Tbk, di bawah kepemimpinan Ahmad Dani Virsal, telah mulai meraih keuntungan yang signifikan, dengan kuartal pertama tahun 2024 mengalami peningkatan yang cukup besar dibandingkan dengan tahun 2023. Perusahaan baru-baru ini mengumumkan Laporan Keuangan Konsolidasian untuk periode yang berakhir pada 31 Maret 2024. Senin (6/5/2024)

Di tengah ketidakpastian global dan gangguan dalam rantai pasokan logam timah akibat penurunan stok di LME dan Bursa Shanghai, serta gangguan politik di negara-negara pengekspor timah, harga logam timah dunia meningkat di LME.

Bacaan Lainnya

PT Timah Tbk dengan bijak memanfaatkan momentum ini sambil fokus meningkatkan kinerja produksi dan operasional. Ini sejalan dengan upaya untuk meningkatkan tata kelola pertambangan timah di Indonesia, yang menghasilkan hasil keuangan yang positif bagi perusahaan.

Fina Eliani, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Timah Tbk, mengaitkan hasil positif tersebut dengan upaya konsentrasi perusahaan dalam meningkatkan produksi melalui penambahan peralatan tambang, pembukaan lokasi baru, penerapan strategi pemulihan, dan program efisiensi yang berkelanjutan.

Upaya ini menghasilkan laba bersih positif pada kuartal pertama 2024, seiring dengan perbaikan dalam tata kelola pertambangan dan perdagangan timah di Indonesia.

Pada Q1 2024, PT Timah Tbk mencatat produksi bijih timah sebesar 5.360 ton, naik 29,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, produksi logam naik 12,7 persen menjadi 4.475 ton dibandingkan dengan 3.970 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, penjualan logam timah mengalami penurunan sebesar 17 persen menjadi 3.524 ton dari 4.246 ton pada periode yang sama.

Harga jual rata-rata logam timah mencapai USD27.071 per metrik ton, meningkat 1,8 persen dibandingkan dengan USD26.573 per metrik ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selama periode ini, 91 persen dari ekspor timah dicatat, dengan enam tujuan ekspor teratas meliputi Singapura (22 persen), Korea Selatan (14 persen), Amerika Serikat (11 persen), Jepang (9 persen), India (8 persen), dan Belanda (8 persen).

PT Timah Tbk melaporkan pendapatan sebesar Rp2.06 triliun, mengalami penurunan 5,3 persen dari Rp2.17 triliun pada Q1 2023. Ini terjadi meskipun terjadi kenaikan harga jual rata-rata logam timah sebesar 1,9 persen dari USD26.573 per metrik ton pada Q1 2023 menjadi USD27.071 per metrik ton pada Q1 2024. Biaya pendapatan juga mengalami penurunan sebesar 7,7 persen dari Rp1,91 triliun pada Q1 2023 menjadi Rp1,76 triliun pada Q1 2024.

Pada Q1 2024, perusahaan mencatat laba usaha sebesar Rp69.7 miliar, jauh lebih tinggi dari Rp21.3 miliar pada Q1 2023, dengan pencapaian EBITDA sebesar Rp335 miliar, mewakili 101 persen dari Rp333 miliar pada Q1 2023.

Akibatnya, PT Timah Tbk melaporkan laba bersih sebesar Rp29.55 miliar pada Q1 2024.

Total aset perusahaan mencapai Rp12.82 triliun pada Q1 2024, sementara kewajiban mencapai Rp6.46 triliun, menandai penurunan sebesar 2.35 persen dari Rp6.61 triliun pada akhir 2023. Ekuitas mencapai Rp6.37 triliun, menunjukkan peningkatan sebesar 2.01 persen dari Rp6.24 triliun pada akhir 2023.

Indikator keuangan menunjukkan hasil yang baik, termasuk Quick Ratio sebesar 23,2 persen, Current Ratio sebesar 143,5 persen, Debt to Asset Ratio sebesar 50,3 persen, dan Debt to Equity Ratio sebesar 101,4 persen.

Dibawah kepemimpinan Ahmad Dani Virsal, PT Timah Tbk siap untuk terus tumbuh dan stabil dalam industri pertambangan timah, didukung oleh inisiatif strategis dan langkah-langkah tata kelola yang efektif.

Harga Timah Meningkat 12% di LME, Perseroan Optimis Capai Target Produksi

Saat ini, industri timah menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, dengan harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) sejak Maret 2024 naik sebesar 12% menjadi USD 29.084 per ton.

Hal ini menandai pertumbuhan yang substansial dari harga rata-rata tahun sebelumnya, yang berada pada angka USD 25.959 per ton. Proyeksi harga timah versi Bloomberg juga memberikan optimisme, dengan kisaran harga diperkirakan antara USD 23.000 hingga USD 29.000 per metrik ton.

Menghadapi kondisi pasar yang menggembirakan ini, Perseroan telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan kinerja operasional dan produksinya.

Melalui optimalisasi produksi tambang laut dan darat, serta peningkatan efisiensi peralatan tambang, Perseroan berhasil meningkatkan produksi timah.

Upaya juga dilakukan dalam optimalisasi produksi dari sisa hasil pengolahan, menunjukkan komitmen Perseroan terhadap penggunaan sumber daya secara efektif.

Tidak berhenti di situ, Perseroan terus berupaya mencapai target produksi yang lebih ambisius. Inisiatif strategis seperti peningkatan sumber daya dan cadangan, baik secara organik maupun anorganik, serta optimalisasi penambangan dan pengolahan timah primer melalui peningkatan recovery menjadi fokus utama.

Perbaikan tata kelola kemitraan penambangan, percepatan pembukaan lokasi baru, dan efisiensi berkelanjutan di seluruh lini bisnis menjadi bagian integral dari rencana pertumbuhan Perseroan.

Dengan kondisi pasar yang mendukung dan komitmen Perseroan terhadap inovasi dan efisiensi, harapan akan tercapainya target produksi yang lebih tinggi semakin menguat.

Perseroan memasuki periode yang menjanjikan, yang didorong oleh kenaikan harga timah dan upaya keras untuk meningkatkan efisiensi operasionalnya. (KBO-Babel/tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *