Pernikahan Kontrak atau Perdagangan Manusia? Kasus Kontroversial di Cianjur Terkuak

Foto: Tersangka Perdagangan Manusia

Skandal Perdagangan Manusia Melalui Pernikahan Kontrak: Kasus Muncikari Cianjur

KBO-BABEL.COM (Cianjur) – Sebuah kasus kriminal yang mengguncang publik terungkap. RN (21 tahun) dan LR (54 tahun) terlibat dalam jaringan perdagangan manusia dengan modus operandi yang merusak, menggunakan pernikahan kontrak sebagai kain kedok yang menyamarinya. Diduga, mereka menjual gadis-gadis muda kepada pria kaya dari Timur Tengah hingga India, menyebabkan kerugian besar bagi korban yang tak berdaya. Jumat (19/4/2024)

Kasus ini membuka tabir gelap di balik tirai pernikahan kontrak yang semestinya sakral. Dua pelaku, RN dan LR, yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaga hak asasi manusia, malah menjadikan gadis-gadis sebagai komoditas untuk memperkaya diri sendiri.

Bacaan Lainnya

Diduga sudah berlangsung sejak tahun 2019, praktik keji ini baru terbongkar setelah beberapa korban berani melangkah maju dan melaporkan kejahatan ini kepada pihak berwajib.

Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Tono Listianto, menegaskan bahwa modus operandi mereka sangat terorganisir. Dengan tarif mulai dari Rp30 juta hingga Rp100 juta, mereka menjajakan gadis-gadis ini kepada pria hidung belang dari berbagai belahan dunia, mulai dari Timur Tengah hingga Singapura. Bahkan, pihak berwajib menduga adanya katalog yang dipakai para pelaku untuk memilih-milih korban yang mereka jajakan kepada pembeli.

Para korban tidak hanya menjadi objek dalam skema kriminal ini, namun juga dibuat terjebak dalam setting pernikahan palsu. Pernikahan yang seharusnya sakral ternyata hanya menjadi drama palsu yang digarap oleh tim pelaku. Penghulu, saksi, bahkan wali gadis-gadis tersebut, semuanya palsu dan hanya menjadi bagian dari pertunjukan busuk yang mereka susun.

Menyedihkan, beberapa korban mengaku merasa terjebak dan terpaksa melakukan laporan ke polisi. Meskipun saat ini baru terungkap enam korban, namun pihak berwajib menduga bahwa jumlah sebenarnya bisa jauh lebih banyak, mengingat praktik ini sudah berlangsung cukup lama.

Kini, RN dan LR dihadapkan pada ancaman hukuman berat sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun, mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka yang merugikan banyak nyawa dan masa depan.

Kasus ini tidak hanya mencoreng nama baik Cianjur sebagai kota yang damai dan indah, namun juga menjadi cermin bagi seluruh masyarakat tentang urgensi perlindungan terhadap hak asasi manusia, terutama para perempuan dan anak-anak yang rentan menjadi korban kejahatan serupa.

Perjuangan pihak berwajib dalam mengungkap kasus ini seharusnya diapresiasi, namun, perlu ada langkah-langkah lebih lanjut untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.

Pendidikan dan kesadaran akan hak asasi manusia harus ditingkatkan secara menyeluruh, sehingga tidak ada lagi ruang bagi para pelaku kejahatan semacam ini untuk berkeliaran dan beraksi. (KBO-Babel/ Tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *