Mengaku ‘Adik Jendral’, Sopir Fortuner Arogan Kini Tertunduk Berbaju Tahanan

Foto: Kondisi jumpa pers di Mapolda Metro Jaya

Sopir Fortuner Arogan Mengaku ‘Adik Jenderal’ Kini Tertunduk Berbaju Tahanan

KBO-BABEL.COM (Jakarta) – Pierre WG Abraham, seorang warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, kini menemui akhir yang tidak terduga setelah arogansi dan kebohongannya terbongkar di hadapan publik. Dalam sebuah jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Pierre hanya bisa tertunduk lesu, menandakan perubahan sikap yang mencolok dari masa lalunya yang penuh keangkuhan. Jumat (19/4/2024)

Pierre, yang sebelumnya viral di media sosial karena perilaku arogannya di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pemalsuan pelat dinas TNI. Keangkuhannya terbukti palsu ketika dia mengaku sebagai adik jenderal dan terlibat dalam cekcok di jalan tol, membuatnya kini harus berhadapan dengan hukum.

Bacaan Lainnya

Usut punya usut, Pierre ternyata bukanlah anggota TNI seperti yang dia klaim. Pelat dinas TNI yang dipasang di mobilnya merupakan hasil pemalsuan, dan terakhir digunakan oleh Marsda TNI (Purn) Asep Adang Supriyadi. Tidak ada hubungan famili antara Pierre dan pemilik sebelumnya dari pelat dinas tersebut.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya Triputra, mengkonfirmasi bahwa Pierre sebenarnya adalah seorang karyawan swasta. Identitas lengkapnya, termasuk tempat dan tanggal lahir, serta alamat rumahnya, diungkapkan dalam jumpa pers tersebut.

Tim Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap Pierre di rumah kakaknya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Dalam penangkapan tersebut, polisi berhasil menyita barang bukti berupa dua buah pelat dinas Mabes TNI yang dipalsukan oleh Pierre dan sempat dibuang di Lembang, Jawa Barat.

Selain itu, polisi juga menyita baju yang digunakan oleh Pierre saat kejadian dan mobil Toyota Fortuner miliknya. Mobil tersebut, beserta pelat nomor aslinya, turut diamankan sebagai barang bukti dalam kasus ini.

Dengan tuduhan pemalsuan pelat dinas TNI, Pierre kini menghadapi ancaman hukuman penjara selama enam tahun berdasarkan Pasal 263 KUHP. Perilaku arogannya yang dulu mencuat di media sosial kini telah membawanya kepada konsekuensi yang tak terhindarkan.

Dalam jumpa pers yang diadakan di Mapolda Metro Jaya pada tanggal 18 April 2024, Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Wira Satya Triputra menjelaskan kronologi kejadian dan pengungkapan kasus ini.

Kolaborasi antara polisi dan Puspom TNI berhasil menangkap pelaku di rumah kakaknya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, pada tanggal 16 April 2024. Penangkapan dilakukan setelah pihak Puspom TNI melakukan pengecekan pelat nomor dinas TNI di database, yang menunjukkan bahwa pelat dinas tersebut terdaftar atas nama Marsda TNI (Purn) Asep Adang Supriyadi.

Menurut keterangan dari Direskrimum Polda Metro Jaya, Pierre WG Abraham mengaku meminjam pelat dinas tersebut dari kakaknya yang merupakan pensiunan TNI. Dia menggunakan pelat dinas tersebut untuk menghindari aturan ganjil genap di DKI Jakarta.

Namun, pelat dinas tersebut telah kedaluwarsa sejak tahun 2018 dan saat ini terdaftar atas nama purnawirawan TNI lainnya, yaitu Marsda TNI (Purn) Asep Adang Supriyadi, yang menggunakan pelat tersebut untuk kendaraan dinas operasional sebagai guru besar di Universitas Pertahanan.

Jeffri B Purba, Kasat Lidkrimpamfik Puspom TNI, mengungkapkan rasa kekecewaan pihak TNI terhadap perbuatan tersebut. Ia menegaskan bahwa pemalsuan pelat dinas TNI tidak hanya mengganggu masyarakat, tetapi juga telah mencemarkan nama baik institusi TNI.

Dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, ia menekankan bahwa aksi semacam ini tidak boleh terulang kembali dan masyarakat sipil yang tidak memiliki kewenangan memakai pelat dinas TNI harus segera melepaskannya.

Kombes Wira Satya Triputra menambahkan bahwa pihak kepolisian masih mendalami pengakuan dari Pierre WG Abraham dan akan menginvestigasi kemungkinan keterlibatan pihak lain terkait kasus ini. Pendalaman lebih lanjut akan dilakukan untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam penanganan kasus ini.

Kasus pemalsuan pelat dinas TNI ini menjadi peringatan bagi masyarakat akan pentingnya mematuhi aturan lalu lintas dan menghormati simbol-simbol kekuasaan negara.

Institusi TNI sebagai bagian integral dari masyarakat berharap agar kejadian serupa tidak terulang dan menegaskan komitmennya untuk menjaga kewibawaan serta integritas lembaga tersebut. (KBO-Babel/Tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *