Tradisi Budaya Tujuh Likur: Perayaan Malam Lailatul Qadar Kembali Digelar!

Foto: Tradisi Budaya Tujuh Likur

Tradisi Budaya Tujuh Likur: Menghidupkan Nuansa Islami dalam Memperingati Malam Lailatul Qadar

KBO-BABEL.COM (Kelapa) – Pada Sabtu malam tanggal 6 April 2024, Desa Mancung di Bangka Barat dipenuhi dengan kegembiraan saat ribuan masyarakat bersama dengan Bupati dan Wakil Bupati Bangka Barat serta Penjabat Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berkumpul untuk merayakan puncak dari tradisi kebudayaan , Tujuh Likur. Acara tahunan ini, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari peringatan malam Lailatul Qadar dalam bulan suci Ramadan 1445 hijriah, telah menjadi sorotan yang dinantikan setiap tahun oleh masyarakat setempat. Selasa (16/4/2024)

Tradisi Tujuh Likur adalah perayaan yang sarat dengan nuansa islami, yang dikenal dengan pemasangan lampu pelita berbahan bakar minyak tanah menggunakan berbagai wadah seperti kaleng, botol bekas, atau buluh bambu dengan sumbu.

Bacaan Lainnya

Cahaya dari pelita-pelita ini memberikan tampilan yang memukau, khususnya pada malam-malam terakhir Ramadan, dengan puncaknya pada malam ke-27 menjelang malam takbiran Idul Fitri.

Foto: Tradisi Budaya Tujuh Likur

Keindahan visual yang diciptakan oleh ribuan lampu pelita ini tidak hanya menghiasi langit malam, tetapi juga menyiratkan makna mendalam tentang kebersamaan, kehidupan spiritual, dan harapan akan berkah dalam menjalani ibadah.

Kehadiran Penjabat Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Safrizal Zakaria Ali, memberikan apresiasi yang tulus terhadap kekayaan budaya dan keindahan tradisi ini, serta makna yang terkandung di baliknya, terutama dalam menyambut malam Lailatul Qadar yang dianggap istimewa bagi umat Islam.

Foto: Tradisi Budaya Tujuh Likur

Bupati Bangka Barat juga menegaskan bahwa Tujuh Likur bukan sekadar acara tahunan biasa, tetapi juga merupakan pesan yang kuat tentang pentingnya mempertahankan dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang.

Selain aspek kebudayaan, acara tersebut juga menjadi panggung bagi kebaikan sosial dengan dilakukannya penggalangan dana bagi rakyat Palestina yang sedang mengalami kesulitan.

Relawan dari Lembaga Kasih Palestina berada di sana untuk mengumpulkan sumbangan dari para hadirin, termasuk tokoh-tokoh pemerintahan dan seluruh masyarakat yang turut meramaikan perayaan.

Foto: Tradisi Budaya Tujuh Likur

Dengan menyatukan nilai-nilai kebudayaan, spiritualitas, dan solidaritas sosial, tradisi Budaya Tujuh Likur tidak hanya memperkuat ikatan komunitas lokal, tetapi juga menjadi contoh kebaikan yang dapat menginspirasi dan mempersatukan berbagai lapisan masyarakat.

Dalam era yang dipenuhi dengan perubahan cepat dan tantangan global, Tujuh Likur menjadi titik cahaya yang memandu perjalanan menuju kesatuan, toleransi, dan kebaikan bersama. Sebuah perayaan yang tidak hanya memperingati masa lalu, tetapi juga merayakan harapan akan masa depan yang lebih baik. (Redaksi, KBO-Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *