Tomy Winata ‘9 Naga’ Jual PT Refined Bangka Tin Sebelum Skandal Korupsi Timah Terjadi

Foto: Tomy Winata

Keterlibatan Tomy Winata dalam Penjualan PT Refined Bangka Tin di Tengah Dugaan Korupsi Timah

KBO-BABEL.COM (Bangka) – Dalam perkembangan terbaru, tokoh bisnis Indonesia, Tomy Winata, yang juga dikenal sebagai salah satu figur utama di antara ‘Sembilan Naga’, telah dikaitkan dengan penjualan PT Refined Bangka Tin (RBT) sebelum skandal korupsi timah terkenal terjadi. PT Refined Bangka Tin, didirikan pada tahun 2007, muncul sebagai pemain penting dalam industri produksi timah batangan di Indonesia. Namun, belakangan ini terlibat dalam skandal korupsi terkait kegiatan pertambangan timah di wilayah Bangka Belitung. Sabtu (6/4/2024)

Dugaan tersebut melibatkan Harvey Moeis, suami dari aktris ternama Indonesia Sandra Dewi dan tokoh kunci di PT RBT, yang diduga sebagai otak di balik operasi pertambangan timah ilegal bekerja sama dengan berbagai perusahaan, termasuk PT SIP, CV VIP, PT SBS, dan PT TIN.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ilegal ini, disamarkan sebagai penyewaan peralatan dan proses peleburan timah, telah menimbulkan kekhawatiran serius terkait keberlanjutan lingkungan dan kepatuhan hukum.

Penangkapan Harvey Moeis oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan atas dugaan korupsi telah mengungkap jaringan hubungan yang rumit dalam industri pertambangan Indonesia.

Keterlibatan langsung Moeis dalam mengkoordinasikan operasi PT RBT menyoroti seriusnya dugaan tersebut dan perlunya penyelidikan menyeluruh untuk meminta pertanggungjawaban semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ilegal tersebut.

Selain itu, penjualan PT Refined Bangka Tin pada tahun 2026, sebelumnya di bawah Artha Graha Network, menimbulkan pertanyaan tentang motif di balik divestasi Tomy Winata dari sektor pertambangan timah.

Winata, bersama Sugianto Kusuma, menempati posisi kunci dalam Artha Graha Network, menandakan pergeseran strategis dari bisnis terkait pertambangan.

Keputusan untuk menjual PT RBT kepada sebuah konsorsium, yang dilaporkan termasuk pengusaha Robert Bono, mengindikasikan restrukturisasi besar-besaran dalam industri.

Pengungkapan Reza Andriansyah pada tahun 2017 mengenai akuisisi konsorsium atas Refined Bangka Tin mengisyaratkan implikasi yang lebih luas bagi sektor pertambangan Indonesia.

Meskipun rincian transaksi tersebut tetap dirahasiakan, spekulasi menunjukkan bahwa dinamika pasar yang berubah dan tantangan regulasi mungkin telah memengaruhi keputusan Artha Graha Network untuk keluar dari bisnis pertambangan timah.

Saat penyelidikan berlanjut dan detail lebih lanjut terungkap, pemangku kepentingan, termasuk pihak berwenang pemerintah, investor, dan advokat lingkungan, menunggu transparansi dan pertanggungjawaban dalam mengatasi masalah sistemik yang menghantui sektor pertambangan Indonesia.

Keterlibatan Tomy Winata dalam penjualan PT Refined Bangka Tin menambah kompleksitas pada narasi yang sudah rumit, menyoroti perlunya reformasi komprehensif untuk memastikan praktik yang berkelanjutan dan etis dalam industri sumber daya alam negara.

Tomy Winata: Perjalanan Karier dari Anak Yatim Piatu hingga Bos Artha Graha Network

Tomy Winata, yang memiliki nama Tionghoa Oe Suat Hong, telah menorehkan prestasi gemilang dalam dunia bisnis Indonesia. Lahir pada 23 Juli 1958 di tengah keluarga serba kekurangan, Tomy Winata menjalani masa kecilnya sebagai seorang anak yatim piatu. Namun, keadaan sulit tersebut tidak menghentikannya untuk meraih kesuksesan yang luar biasa.

Sejak usia muda, Tomy Winata telah menunjukkan bakatnya dalam dunia bisnis. Pada usia 15 tahun, dia sudah mengenal dunia militer ketika diperkenalkan kepada seorang pejabat di Singkawang.

Dari sinilah, langkah awalnya dalam dunia bisnis dimulai. Tomy mendapatkan proyek-proyek pembangunan kantor Koramil dan menjadi penyalur barang untuk berbagai tangsi militer di Indonesia, termasuk di Papua, Makassar, dan Ambon.

Kesuksesan Tomy Winata semakin membesar ketika ia terlibat dalam penyelamatan Bank Propelat pada tahun 1988. Bersama dengan Yayasan Kartika Eka Paksi, mereka berhasil mengubah Bank Propelat menjadi Bank Artha Graha. Hanya dalam waktu singkat, bank tersebut berhasil pulih dan kembali menjadi lembaga keuangan yang sehat.

Selama masa krisis finansial pada tahun 1998, Tomy Winata kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam mengelola bisnis dengan menyelamatkan Arta Pusara yang kemudian berganti nama menjadi Artha Pratama. Keberhasilannya dalam mengatasi tantangan tersebut membuktikan keunggulan strateginya dalam mengelola perusahaan.

Tidak berhenti di situ, Tomy Winata terus mengembangkan bisnisnya dengan mendirikan PT Danayasa Arthatama pada tahun 1989. Dia juga terlibat dalam proyek raksasa senilai US$ 3,25 miliar di kawasan bisnis Sudirman Central Business District (SCBD) di Jakarta, yang membuktikan komitmennya dalam mengambil bagian dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Prestasinya tidak hanya terbatas dalam dunia perbankan. Pada tahun 2003, Tomy Winata berhasil mengambil alih Bank Inter-Pacific, yang kemudian mengakuisisi Bank Artha Graha pada tahun 2005.

Perusahaan tersebut kemudian berganti nama menjadi Bank Artha Graha Internasional, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam sektor keuangan Indonesia.

Selain itu, Tomy Winata juga memiliki investasi di sektor perhotelan melalui PT Jakarta Internasional Hotels and Development, dengan memiliki saham di Hotel Borobudur. (Sumber: Bangkapos, Editor: KBO-Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *