PT Timah Tbk: Rugi Rp 450 Miliar, DPR Soroti Kinerja Perusahaan

Foto: Dirut PT Timah rapat dengan Komisi VI DPR

PT Timah Tbk Mengalami Rugi Rp 450 Miliar, Anggota DPR Soroti Kinerja Perusahaan yang Fluktuatif

KBO-BABEL.COM (Jakarta) – PT Timah Tbk, perusahaan tambang timah terbesar di Indonesia, menghadapi tantangan serius dengan mencatatkan kerugian hingga Rp 450 miliar. Dirut PT Timah, Ahmad Dani Virsal, mengungkapkan bahwa kondisi ini terjadi akibat penurunan harga timah di pasar global yang signifikan. Rabu (3/4/2024)

Menurut Ahmad, penurunan pendapatan dari penjualan perusahaan disebabkan oleh beberapa faktor utama. Produksi PT Timah mengalami penurunan yang cukup drastis, diikuti oleh penurunan harga jual timah di pasar dunia.

Bacaan Lainnya

Ahmad menjelaskan bahwa beban operasional perusahaan tetap tinggi, sementara pendapatan menurun tajam karena produksi yang merosot dan harga jual yang turun.

“Pendapatan kita jauh menurun karena produksinya juga jauh menurun. Produksi menurun ditambah parah lagi harga jual timah juga menurun sehingga pendapatan itu jomplang jauh sekali,” ungkap Ahmad dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Selasa (2/4/2024).

Pendapatan PT Timah tercatat turun 33% di tahun 2023, hanya mencapai Rp 8,39 triliun dibandingkan dengan Rp 12,5 triliun di tahun 2022. Akibatnya, perusahaan mengalami rugi bersih sebesar Rp 450 miliar, padahal di tahun 2022 masih berhasil meraih laba hingga Rp 1,04 triliun.

Anggota Komisi VI DPR, Haris Turino, menyatakan kekagetannya atas kondisi keuangan PT Timah yang “berdarah-darah”. Turino mengkritik Ahmad karena kurangnya transparansi dalam menjelaskan penyebab turunnya produksi timah serta penurunan pendapatan perusahaan. Ia juga mencurigai adanya keterkaitan antara kasus korupsi tata niaga komoditas timah dengan buruknya kinerja PT Timah.

“Harusnya dijelaskan pak kenapa produksi turun, bukan hanya pendapatan turun karena produksi dan harganya turun,” ujar Turino.

Deddy Sitorus, anggota komisi lainnya, juga menyoroti fluktuasi kinerja keuangan PT Timah yang dinilainya tidak wajar. Ia menyatakan kekagetannya karena harga timah telah meningkat secara konsisten sejak tahun 2018, sehingga sulit dipahami bagaimana PT Timah bisa mengalami kerugian dalam kondisi tersebut.

“Bapak ini bagaimana menjelaskan tata niaga itu bisa sampai merugi? Karena dari tahun 2018 itu trending-nya harga timah naik terus, nggak ada cerita bisa rugi seharusnya kalau menurut saya,” ujar Sitorus.

Ahmad mengungkapkan bahwa penurunan produksi dan harga timah disebabkan oleh oversupply di pasar global, di mana beberapa negara produsen seperti Malaysia mengalami peningkatan produksi.

Harga rata-rata timah per metrik ton juga mengalami penurunan signifikan sejak tahun 2021, mencapai US$ 26.583 di tahun 2023 dari US$ 32.169 di tahun 2021.

Meskipun demikian, PT Timah berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah strategis guna mengatasi tantangan ini dan memperbaiki kinerja keuangannya.

Namun, kritik dari anggota DPR menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam menjelaskan kondisi perusahaan kepada publik dan pemangku kepentingan.

Kondisi PT Timah yang mengalami kerugian besar menggarisbawahi pentingnya strategi yang tepat dalam mengelola pasar komoditas yang fluktuatif dan kompetitif.

Transparansi dan akuntabilitas dalam menjalankan perusahaan juga menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik dan pemangku kepentingan. (Sumber: Detik, Editor: KBO-Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *