Skandal Korupsi Pengelolaan Tambang Timah: Harvey Moeis Hanya Pion, Penyelidikan Meluas ke Sosok RBS dan Tokoh Politik

Foto: Harvey Tersangka Ke-16 dalam Skandal Korupsi Komoditas Timah

Penyelidikan Terbaru: Kasus Korupsi Pengelolaan Tambang Timah Terungkap, Sosok RBS dan Aktor Politik Diduga Terlibat

KBO-BABEL.COM (Jakarta) – Kasus korupsi yang mengguncang dunia pertambangan Indonesia kembali menjadi sorotan publik dengan terungkapnya jaringan kompleks yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari perusahaan tambang hingga aktor politik. Senin (1/4/2024)

Dalam kasus ini, Harvey Moeis, seorang yang ditetapkan sebagai tersangka utama, dianggap sebagai perpanjangan tangan dari perusahaan terkait, tetapi dugaan keterlibatan sosok RBS dan aktor politik lokal maupun nasional menjadi sorotan dalam penyelidikan tersebut.

Bacaan Lainnya

Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, menjelaskan bahwa Harvey Moeis bukanlah satu-satunya figur yang terlibat dalam skandal ini. Dia menegaskan bahwa Harvey hanyalah salah satu dari beberapa individu yang menjadi kaki tangan dalam kasus korupsi pengelolaan tambang timah.

Lebih jauh lagi, Boyamin menduga bahwa sosok RBS, yang belum tercatat dalam manajemen perusahaan yang terkait, memiliki peran kunci dalam mendirikan dan mendanai perusahaan-perusahaan yang menjadi alat korupsi dalam pengelolaan tambang timah tersebut.

Menurut Boyamin, investigasi terhadap para tersangka tidak boleh hanya sebatas pada individu-individu yang langsung terlibat dalam praktik korupsi. Pihak berwenang harus memperluas cakupan penyelidikan hingga mencakup sosok RBS dan kemungkinan keterlibatan aktor politik lokal dan nasional dalam skandal ini.

Boyamin menegaskan bahwa tidak mungkin kejahatan sebesar ini berlangsung tanpa adanya dukungan atau lalai dari berbagai otoritas, mulai dari perizinan hingga penegakan hukum.

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejagung, Kuntadi, menjelaskan bahwa Harvey Moeis dianggap sebagai perpanjangan tangan dari PT Refined Bangka Tin (PT RBT).

Dia diduga terlibat dalam mengakomodasi penambangan timah secara ilegal di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) PT Timah Tbk dengan melibatkan beberapa perusahaan pengolahan timah, antara lain PT SIP, CV VIP (Venus Inti Perkasa), PT SPS, dan PT TIN (Tinindo Inter Nusa).

Modus operandi yang digunakan dalam kasus ini juga menjadi fokus penyelidikan. Harvey diduga meminta sejumlah perusahaan pengolahan timah untuk menyetorkan sebagian keuntungan perusahaan dengan dalih sebagai tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), namun dana tersebut kemudian disinyalir untuk kepentingan pribadi.

PT Quantum Skyline Exchange (PT QSE), sebuah perusahaan pengiriman uang, juga terlibat dalam aliran dana korupsi ini, dengan manajernya, Helena Lim, telah ditetapkan sebagai tersangka.

Zaenur Rohman dari Pusat Kajian Anti Korupsi UGM (Pukat UGM) menegaskan bahwa kasus ini mencerminkan adanya jaringan pelaku korupsi yang sudah menjalar seperti mafia dalam industri pertambangan.

Dia mendesak agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh, termasuk mengungkap dugaan aliran dana korupsi ke aktor politik lokal maupun nasional. Zaenur menekankan pentingnya proses hukum yang adil dan tuntas terhadap semua pihak yang terlibat dalam skandal ini.

Pihak Kejaksaan Agung menyatakan bahwa penyidik masih terus mengembangkan kasus ini dengan memanggil dan memeriksa sejumlah saksi-saksi kunci, termasuk AGR, yang merupakan Komisaris PT Refined Bangka Tin. Meskipun proses penyelidikan membutuhkan waktu, masyarakat berharap agar keadilan bisa ditegakkan dan semua pihak yang terlibat dapat diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kasus korupsi pengelolaan tambang timah ini menunjukkan betapa pentingnya upaya pemberantasan korupsi dalam industri pertambangan. Tidak hanya merugikan negara dalam hal keuangan, praktik korupsi semacam ini juga merusak lingkungan dan berdampak negatif pada masyarakat setempat. Oleh karena itu, penyelidikan yang teliti dan tindakan hukum yang tegas diperlukan untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan. (Sumber: Kompas, Editor: KBO-Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *