Skandal Korupsi Timah di Bangka Belitung: Kerugian Rp271 Triliun, Big Bos Kabur ke Luar Negeri

Foto: Tambang Timah Ilegal

RBS, Terduga Big Bos dalam Kasus Korupsi Timah Senilai Rp271 Triliun, Diduga Kabur ke Luar Negeri: Penelusuran Identitas dan Keterlibatan

KBO-BABEL.COM (Bangka Belitung) – Sebuah bayangan kelam melintasi panorama hukum Indonesia dengan terungkapnya skandal korupsi yang menyeret nama-nama besar dalam industri timah. Kasus mega korupsi ini menggemparkan publik dengan nilai kerugian fantastis mencapai Rp271 triliun, setara dengan 90 kali lipat APBD Provinsi Bangka Belitung tahun 2024. Dalam gejala yang mengguncang sendi-sendi pemerintahan dan dunia bisnis, satu nama mencuat sebagai sosok yang diduga menjadi otak di balik seluruh peristiwa ini, yaitu RBS. Sabtu (30/3/2024)

Kerugian sebesar itu terungkap setelah ahli lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Profesor Bambang Hero Saharjo, melakukan perhitungan atas dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas penambangan timah ilegal di Bangka Belitung. Profesor Bambang menyatakan, total kerugian kerusakan lingkungan hidup Rp 271.069.740.060.

Bacaan Lainnya

Kasus ini membawa sejumlah nama besar ke meja peradilan, termasuk Harvey Moeis, suami artis Sandra Dewi, dan Helena Lim, yang disebut-sebut sebagai Crazy Rich Pantai Indah Kapuk (PIK). Namun, meskipun beberapa tersangka telah ditetapkan, Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) mengungkapkan bahwa ada satu big bos lagi yang belum tertangkap, dan diduga telah melarikan diri ke luar negeri.

Kasus ini semakin mengguncangkan masyarakat Bangka Belitung karena dampaknya yang merusak lingkungan hidup di wilayah tersebut. Aktivitas tambang ilegal disebut telah membuka lubang galian yang tidak sesuai dengan izin yang diberikan, mencakup lebih dari dua kali lipat dari izin yang seharusnya.

“Dengan demikian, luas galian tambang yang tidak berizin mencapai 81.462,602 hektare,” ungkap Profesor Bambang.

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Kuntadi, menyatakan bahwa nilai kerugian tersebut masih akan bertambah karena proses penghitungan kerugian keuangan negara masih berlangsung.

“Kerugian ini masih akan kita tambah dengan kerugian keuangan negara yang sampai saat ini masih berproses. Berapa hasilnya masih kita tunggu,” kata Kuntadi.

Sementara itu, spekulasi tentang penggunaan uang sebanyak Rp271 triliun tersebut pun berkembang di media sosial. Jika UMP Babel 2024 Rp3.640.000, maka uang sebanyak Rp271 triliun bisa untuk memberi gaji masing-masing penduduk Babel selama 4 tahun tanpa bekerja. Bahkan untuk membangun infrastruktur penting seperti jembatan penghubung antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung.

Reaksi publik pun bervariasi, dengan beberapa pihak mengecam keras tindakan korupsi yang merugikan negara dan lingkungan hidup, sementara yang lain mengkritik sistem penegakan hukum yang dinilai belum efektif dalam menangani kasus korupsi yang melibatkan orang-orang berpengaruh. Kejadian ini juga menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dalam pemberian izin tambang dan pengawasan terhadap aktivitas pertambangan di daerah-daerah lain di Indonesia.

RBS: The Elusive Mastermind

Kabar tentang RBS, sosok yang dituduh sebagai dalang di balik dugaan korupsi tata niaga komoditas timah, telah mencuat dalam berbagai media dan mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak.

Namun, sosok ini masih menyelimuti dirinya dengan kabut misteri. Meskipun identitasnya cukup dikenal di kalangan pengusaha, data dirinya masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan dengan jelas.

Menurut laporan yang didapat, RBS disebut sebagai alumnus University of California San Francisco Foundation, yang kemudian terjun ke dunia bisnis dengan menjabat sebagai Komisaris Utama di beberapa perusahaan besar di Indonesia. Namun, keterlibatan RBS dalam kasus korupsi timah ini masih menjadi pertanyaan besar yang menggantung di udara.

Dugaan Keterlibatan dalam Kasus Korupsi

Dalam bayangan kegelapan kasus korupsi timah yang melibatkan sejumlah pengusaha nasional dan Bangka Belitung, RBS muncul sebagai sosok yang diduga menjadi otak di balik skandal ini.

Menurut informasi yang disampaikan oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), RBS disebut sebagai sosok yang memerintah tersangka lain, seperti Harvey Moeis dan Helena Lim, dalam melakukan manipulasi uang hasil korupsi dengan modus Corporate Social Responsibility (CSR).

Dugaan keterlibatan RBS tidak berhenti di situ. MAKI juga menduga bahwa RBS merupakan sosok yang mendirikan dan memberikan pendanaan kepada perusahaan-perusahaan yang digunakan sebagai alat untuk melakukan korupsi tata niaga komoditas timah.

Dengan perannya yang diduga sebagai aktor intelektual dan penikmat uang paling banyak, RBS menjadi sosok sentral dalam jaringan kejahatan yang merugikan negara dengan jumlah fantastis.

Kepergian Menuju Luar Negeri

Terduga keterlibatan RBS dalam skandal korupsi timah ini semakin menguat dengan kabar bahwa ia diduga telah kabur ke luar negeri. MAKI, melalui Koordinator Boyamin Saiman, menyampaikan bahwa RBS menjadi target yang penting untuk ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Namun, dengan dugaan kepergiannya ke luar negeri, upaya penegakan hukum terhadap RBS menjadi semakin rumit.

MAKI meminta Jaksa Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung segera menetapkan RBS sebagai tersangka dan melakukan penahanan, mengingat peran besar yang diduga dimainkan oleh sosok ini dalam skandal korupsi yang merugikan negara. Namun, upaya penangkapan menjadi lebih rumit dengan dugaan keberadaan RBS di luar negeri.

Penelusuran Identitas dan Keterlibatan RBS

Dalam upaya mengungkap kebenaran di balik kasus korupsi timah senilai Rp271 triliun ini, penelusuran identitas dan keterlibatan RBS menjadi kunci penting.

Siapa sebenarnya sosok misterius ini? Apa peran sebenarnya yang dimainkannya dalam jaringan kejahatan yang merugikan negara ini? Dan yang terpenting, apakah dugaan keberadaannya di luar negeri akan menghambat upaya penegakan hukum untuk membawa RBS ke hadapan keadilan?

Dengan bayangan misteri yang menyelimuti sosok RBS, publik menanti-nantikan kelanjutan dari kasus korupsi timah ini. Upaya penegakan hukum yang tegas dan transparan menjadi harapan untuk mengungkap kebenaran dan membawa para pelaku keadilan.

Daftar 16 tersangka

Berikut nama-nama tersangka, yang sudah dirilis Kejagung RI.

1. Tamron alias Aon Beneficial Ownership CV VIP dan PT MCM.

2. Achmad Albani selaku Manager Operasional Tambang CV VIP dan PT MCM.

3. Suwito Gunawan Komisaris PT Stanindo Inti Perkasa.

4. MB Gunawan Direktur Utama PT Stanindo Inti Perkasa.

5. Mochtar Riza Pahlevi Tabrani Direktur Utama PT Timah Tbk Tahun 2016-2021.

6. Hasan Tjhie Direktur Utama CV Venus Inti Perkasa.

7. Emil Ermindra Direktur Keuangan PT Timah Tbk Tahun 2017-20218.

8. Kwang Yung alias Buyung, penambang timah

9. Toni Tamsil alias Akhi kakak Aon.

10. Robert Indarto, Dirut CV Sariwiguna Sentosa.

11. Rosalina GM PT Tinindo Internusa

12. Suparta, Direktur PT RBT.

13. Reza Ardiansyah, Direktur Business Development PT RBT.

14. Alwin Albar mantan Direktur Ops PT Timah Tbk.

15. Helena Lim, Manager PT QSE.

16. Harvey Moeis, Pemegang Saham PT RBT.

Sebagai negara yang berkomitmen untuk memberantas korupsi, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga integritas dan keadilan dalam menangani kasus-kasus korupsi sebesar ini.

Dalam bayangan kelam kasus korupsi timah yang meresahkan, publik berharap untuk melihat sinar keadilan yang terang benderang. Dan dalam pusaran pertanyaan yang mengitari sosok RBS, kebenaran pun akan terungkap, membawa tindak pidana korupsi ini ke pangkuan keadilan yang sejati. (Sumber: Bangka Pos, Editor: KBO-Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *