Kopetindo dan KBO Babel Berkomitmen Dukung Net Zero Emissions 2060 untuk Melawan Perubahan Iklim  

Sebagai bentuk kepedulian serta dukungan terhadap program internasional Net Zero Emmisions (NZE) dalam upaya mencegah perubahan Iklim (climate change) serta mendukung energi bersih pihak Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) menggandeng pihak Yayasan Kantor Berita Online Bangka Belitung (KBO Babel) dalam upaya merealisasikan program tersebut
Foto : Pengurus KBO Babel dan Kopetindo pose bersama usai penandatanganan PKS

Mewujudkan Misi Bersama: Kopetindo dan KBO Babel Menuju Net Zero Emissions 2060

KBO-BABEL.COM (PANGKALPINANG)  – Sebagai bentuk kepedulian serta dukungan terhadap program internasional Net Zero Emmisions (NZE) dalam upaya mencegah perubahan Iklim (climate change) serta mendukung energi bersih pihak Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) menggandeng pihak Yayasan Kantor Berita Online Bangka Belitung (KBO Babel) dalam upaya merealisasikan program tersebut. Jumat (22/3/2024).

Bentuk dukungan itu pun diaplikasikan oleh kedua belah pihak ini (Kopetindo & KBO Babel) melalui penandatanganan kerja sama atau PKS, Kamis (21/3/2024) bertempat di lantai II gedung KBO Babel, jalan Pulau Bangka No.3, Komplek Citra Square, Kelurahan Air Itam, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkalpinang.

Bacaan Lainnya

Dalam penandatanganan PKS turut disaksikan ketua umum Kopetindo, Ir Widi Pancono diwakili termasuk Rikky Fermana S.IP, C.Me (penanggung jawab KBO Babel).

Acara penandatanganan PKS ini cukup singkat namun berjalan lancar. Sementara dalam penandatanganan PKS pihak Kopetindo diwakili oleh Gustio Setiawan SH dan pihak Yayasan KBO Babel oleh Ryan Augusta Prakasa, S.Sos selaku ketua yayasan.

Sebelumnya, dalam percakapan antara perwakilan Kopetindo (Gustio Setiawan) dengan ketua Yayasan KBO Babel, Ryan Augusta di kantor KBO Babel, Gustiawan mengatakan jika lembaganya berfokus pada konsultasi hijau, perdagangan hijau, konstruksi hijau, dan operasi energi terbarukan.

“Kegiatan bisnis kami (Kopetindo – red) mendukung produksi lokal dalam energi terbarukan dan teknologi pendukungnya untuk dapat bermanfaat bagi masyarakat lokal,” kata Gustio di hadapan ketua Yayasan KBO

Acara penandatanganan PKS ini cukup singkat namun berjalan lancar. Sementara dalam penandatanganan PKS pihak Kopetindo diwakili oleh Gustio Setiawan SH dan pihak Yayasan KBO Babel oleh Ryan Augusta Prakasa, S.Sos selaku ketua yayasan.
Foto : Ketua Yayasan KBO Babel Ryan Augusta Prakasa saat menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan Kopetindo. (dok. KBO Babel)

Diterangkanya lebih lanjut jika energi terbarukan sesungguhnya merupakan sumber energi yang berasal dari alam yang mampu dibuat kembali secara bebas, serta mampu diperbarui terus-menerus dan tak terbatas, bahkan energi terbarukan mampu diciptakan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin canggih, sehingga mampu menjadi sumber energi alternatif.

Selain itu menurutnya penggunaan energi terbarukan mampu menyerap sumber daya serta investasi yang mana manfaatnya bisa dirasakan hingga di masa mendatang. Sejumlah energi terbarukan tersebut memiliki dampak positif terhadap kondisi alam maupun bagi kehidupan manusia.

“Antara lain meminimalisir efek pemanasan global (global warming – red). Selain itu bahwa sumber energi ini pun tak terbatas serta dapat meningkatkan kesehatan masyarakat serta hemat sumber daya atau uang dan juga menciptakan lapangan kerja dan peluang lainnya,” terangnya.

Adapun beberapa sumber energi terbarukan dikatakan Gustiawan antara lain yakni berupa tenaga air, panas bumi, biomassa, tenaga surya, tenaga angin, panas laut, ombak, dan pasang surut air laut.

“Nah potensi limbah kelapa sawit pun bisa diolah menjadi biomassa sebagai bahan produksi energi kelistrikan antara lain pelepah pohon kelapa sawit tersebut selain cangkangnya,” jelasnya.

Oleh karenanya sebagai mitra dari PT Mentari Biru Energi (MBE), pihak Kopetindo bersinergi dengan Yayasan KBO Babel dalam hal pemenuhan pasokan atau suplai bahan baku guna dijadikan energi terbarukan berupa pelepah pohon sawit ke pabrik pengelolaan ampas kayu (Wood Chip) yang terletak di Desa Balun Ijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka.

“Bahan baku tersebut (pelepah – red) setelah kita olah menjadi potongan-potongan kecil atau disebut Wood Chip selanjutnya kita kirim ke PLTU Air Anyir guna memenuhi kebutuhan pasokan biomassa untuk kebutuhan energi listrik,” tegasnya.

Sebagai bentuk kepedulian serta dukungan terhadap program internasional Net Zero Emmisions (NZE) dalam upaya mencegah perubahan Iklim (climate change) serta mendukung energi bersih pihak Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) menggandeng pihak Yayasan Kantor Berita Online Bangka Belitung (KBO Babel) dalam upaya merealisasikan program tersebut
Foto : Pengurus KBO Babel dan Kopetindo pose bersama usai penandatanganan PKS

 

Ryan Harapkan Keberadaan Kopetindo Memberikan Manfaat Bagi Masyarakat 

Menyikapi hal tersebut, ketua Yayasan KBO Babel Ryan Augusta Prakasa menyambut positip pernyataan yang disampaikan langsung oleh perwakilan Kopetindo (Gustio Setiawan), bahkan dirinya sangat mendukung program NZE 2060, terlebih dalam upaya bersama meminimalisir terjadinya perubahan iklim (clmate change) atau pun pemanasan global (global warming).

“Energi biomassa ini kan bersifat sustainable (dapat diperbaharui – red), sehingga tidak akan habis untuk waktu yang lama dan tetap sustainable (berkesinambungan – red),” ujar Ryan.

Selain itu biomassa pun diketahuinya tidak mengandung CO2 sama sekali di dalamnya, sehingga tidak mendukung peningkatan emisi gas rumah kaca.

“Hal ini justru membuat biomassa lebih ramah lingkungan, nah kami pun sangat mendukung upaya mewujudkan energi yang ramah lingkungan ini,” tegas Ryan.

Tak cuma itu wartawan senior ini pun berharap kerja sama antara pihak KBO Babel dengan Kopetindo dapat memberikan efek positif bagi masyarakat di Bangka Belitung (Babel).

Acara penandatanganan PKS ini cukup singkat namun berjalan lancar. Sementara dalam penandatanganan PKS pihak Kopetindo diwakili oleh Gustio Setiawan SH dan pihak Yayasan KBO Babel oleh Ryan Augusta Prakasa, S.Sos selaku ketua yayasan.

Sekedar diketahui, Net Zero Emissions atau nol emisi karbon adalah kondisi dimana jumlah emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer tidak melebihi jumlah emisi yang mampu diserap oleh bumi. Untuk mencapainya diperlukan sebuah transisi dari sistem energi yang digunakan sekarang ke sistem energi bersih guna mencapai kondisi yang seimbang antara aktivitas manusia dengan keseimbangan alam.

Transisi energi merupakan proses panjang yang harus dilakukan oleh negara-negara di dunia untuk menekan emisi karbon yang dapat menyebabkan perubahan iklim. Kesepakatan dalam transisi energi bertujuan untuk menuju ke titik yang sama yaitu pemanfaatan energi bersih yang terus meningkat.

Bahkan Presiden Joko Widodo sebelumnya telah menyampaikan bahwa menurutnya Indonesia akan mencapai Net Zero Emission (NZE) tahun 2060 atau lebih cepat.

Mengutip dari lama resmi Kementerian ESDM atau esdm.go.id, disebutkan jika Indonesia memiliki target Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada bauran energi nasional pada tahun 2025.

Kebijakan ini, yang dipadukan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 29% pada tahun 2030, merupakan upaya yang jelas menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pembinaan Program Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu mewakili Direktur Jenderal Rida Mulyana pada The 9th INDONESIA EBTKE Virtual Conference and Exhibiton 2020 (EBTKE Conex 2020) yang mengusung tema “It’s Time to Invest in Renewable Energy for Energy Transitions and Economic Recovery” yang dilaksanakan secara virtual.

Energi terbarukan adalah sumber energi yang cepat dipulihkan kembali secara alami, dan prosesnya berkelanjutan. Energi terbarukan dihasilkan dari sumberdaya energi yang secara alami tidak akan habis bahkan berkelanjutan jika dikelola dengan baik. Energi terbarukan kerap disebut juga sebagai energi berkelanjutan (sustainable energy).

Bentuk dukungan itu pun diaplikasikan oleh kedua belah pihak ini (Kopetindo & KBO Babel) melalui penandatanganan kerja sama atau PKS, Kamis (21/3/2024) bertempat di lantai II gedung KBO Babel, jalan Pulau Bangka No.3, Komplek Citra Square, Kelurahan Air Itam, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkalpinang.
Foto : Logo Kopetindo

Tentang Kopetindo

Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) mempunyai misi sebagai koperasi energi terbarukan pertama di Indonesia yang diakui secara nasional dan bermanfaat bagi komunitas lokal dan masyarakat Indonesia.

Kopetindo merupakan badan usaha berbentuk koperasi pertama yang bergerak khusus di bidang energi terbarukan.

Kopetindo didirkan dengan tujuan membangun Indonesia dengan memanfaatkan energi terbarukan dari lokal dan menerapkan teknologi tepat guna.

Kopetindo akan memanfaatkan potensi energi lokal yang ada di sejumlah daerah seperti angin, matahari, biomass, biogas, sampah, skala mikro maupun mini, panas bumi hingga gelombang laut.

Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) sudah memulai peyaluran investasi untuk proyek biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berlokasi Bangka.

 

Ketua Umum Kopetindo, Widi Pancono menjelaskan, saat ini pihaknya sedang dalam tahap berinvestasi untuk beberapa proyek energi terbarukan yang sumber pendanaan dari anggota.“Salah satu investasi yang sedang dijalankan saat ini adalah biomassa palet kayu dari kayu karet tua masyarakat, di luar kawasan hutan untuk menggantikan batubara di pembangkit PLTU Air Anyir, Pulau Bangka,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Sabtu (28/10/2023).
Foto : Ketua Umum Kopetindo, Widi Pancono

Ketua Umum Kopetindo, Widi Panconomenjelaskan, saat ini pihaknya sedang dalam tahap berinvestasi untuk beberapa proyek energi terbarukan yang sumber pendanaan dari anggota.

“Salah satu investasi yang sedang dijalankan saat ini adalah biomassa palet kayu dari kayu karet tua masyarakat, di luar kawasan hutan untuk menggantikan batubara di pembangkit PLTU Air Anyir, Pulau Bangka,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Sabtu (28/10/2023).

Widi menyatakan, peluang proyek co-firing biomassa saat ini semakin tumbuh dan semakin banyak permintaan dari PLTU PLN lainnya dan PLTU swasta.

Proyek Kopetindo di Bangka ini diakui telah dijadikan percontohan nasional. Selain proyek biomasa woodchip, Kopetindo juga masuk dalam kerja sama dengan pihak swasta dan daerah untuk mengembangkan proyek tenaga surya atap, arang batok, lampu LED, sampah menjadi pengganti solar, dan lainnya.

(KBO Babel/Moenk)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *