Pertanian Modern di Tangan Generasi Milenial: Kisah Sukses dan Harapan Baru bagi Bangka Belitung

Foto : Dosen jurusan Agroteknologi Universitas Bangka Belitung sekaligus Ketua Asosiasi Hortikultura Bangka Dr Tri Lestari,SP.,M.Si

Petani Milenial Bangka Belitung: Regenerasi dengan Ragam Latar Belakang Pendidikan

KBOBABEL.COM (Bangka Belitung) – Dalam era di mana teknologi dan inovasi mengubah lanskap pertanian, generasi milenial di Bangka Belitung telah merambah dunia petani dengan semangat dan karakteristik yang khas. Menurut Dr. Tri Lestari, seorang Dosen Agroteknologi di Universitas Bangka Belitung dan Ketua Asosiasi Hortikultura Bangka, semakin banyak generasi milenial yang terlibat dalam usaha pertanian di wilayah tersebut. Jumat (1/3/2024).

Meskipun demikian, tidak semua dari mereka memiliki latar belakang pendidikan di bidang pertanian atau mewarisi usaha keluarga.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Tri, dari 54 petani milenial yang diwawancarai, terdapat keragaman latar belakang pendidikan.

Sebanyak 37.04 persen atau sekitar 20 petani memiliki pendidikan menengah atas, sementara 20.36 persen atau 11 orang memiliki gelar sarjana dan diploma.

Tidak kurang dari 42.59 persen atau 23 petani milenial memiliki tingkat pendidikan rendah, mulai dari sekolah dasar hingga menengah pertama.

Dengan adanya petani milenial, terjadi proses regenerasi dalam dunia pertanian Bangka Belitung. Mereka membawa karakteristik yang berbeda, dipengaruhi oleh berbagai kompetensi seperti teknis, manajerial, dan sosial, serta ciri-ciri individu mereka.

Dr. Tri menjelaskan bahwa kompetensi teknis menjadi faktor dominan yang membentuk karakteristik petani milenial.

Mereka tidak hanya memiliki pengaruh positif dalam menjalani profesi sebagai petani, tetapi juga menunjukkan keyakinan untuk berkembang melalui perilaku kewirausahaan yang inovatif.

Karakteristik petani milenial ini menjadi sorotan karena menandai perubahan dalam paradigma petani tradisional.

Mereka tidak hanya mengandalkan pengetahuan turun-temurun, tetapi juga menggabungkannya dengan teknologi dan kreativitas baru.

Hal ini tercermin dalam semangat mereka untuk terlibat dalam kegiatan pertanian, meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang tersebut.

Salah satu contoh sukses adalah Ahmad, seorang petani milenial berusia 27 tahun. Meskipun hanya memiliki latar belakang pendidikan menengah atas, dia berhasil mengubah ladang keluarganya menjadi perkebunan organik yang sukses.

Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan jejaring sosial, Ahmad mampu memasarkan produknya secara luas, bahkan hingga ke luar pulau. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terlibat dalam dunia pertanian.

Keterlibatan generasi milenial dalam pertanian juga memberikan harapan baru bagi masa depan sektor pertanian di Bangka Belitung.

Dengan ide-ide segar dan semangat yang tinggi, mereka membawa inovasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing pertanian lokal.

Selain itu, keberadaan mereka juga mendorong adopsi teknologi modern dalam praktik pertanian, sehingga menciptakan kesempatan baru untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di daerah tersebut.

Dengan demikian, peran petani milenial dalam dunia pertanian Bangka Belitung tidak hanya sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai agen perubahan yang membawa harapan bagi masa depan pertanian yang lebih baik dan berkelanjutan.  (Sumber : Bangka Pos, Editor : KBO Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *