Tragedi Pembunuhan Santri: Motif dan Kronologi Penganiayaan Bintang Balqis Maulana Terungkap

Foto : Misteri dibalik kematian Bintang di Ponpes Kediri

Rahasia Terkuak: Kisah Tragis Pembunuhan Santri Banyuwangi di Pondok Pesantren

 KBOBABEL.COM (Kediri) – Motif penganiayaan yang menyebabkan Bintang Balqis Maulana (14), santri asal Banyuwangi tewas di Pondok Pesantren Tartilul Quran (PPTQ) Al Hanifiyah Kediri akhirnya terungkap. Kamis (29/2/2024).

Keempat senior yang kini menjadi tersangka mengaku memukul Bintang karena jengkel dengan sikapnya yang sulit diajak komunikasi, terutama dalam hal ketaatan beragama.

Bacaan Lainnya

Menurut pengakuan dari kuasa hukum para tersangka, Rini Puspitasari, para pelaku merasa frustasi karena Bintang sulit untuk diajak komunikasi, terutama dalam hal ketaatan beragama.

Bintang, yang baru saja sembuh dari sakitnya, tinggal dalam satu kamar di pondok pesantren yang diasuh oleh Gus Fatihunnada alias Gus Fatih.

Awalnya, para pelaku mengetahui bahwa Bintang tidak melaksanakan ibadah wajib salat 5 waktu. Namun, ketika mereka mencoba menasihatinya, Bintang tidak merespons dengan baik.

Ketegangan semakin memuncak ketika pada Kamis (22/2), para pelaku mendapati bahwa Bintang kembali tidak ikut salat berjemaah lagi. Mereka memerintahkan Bintang untuk salat, namun Bintang memilih mandi terlebih dahulu.

Ketika Bintang keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang, para pelaku menganggapnya sedang menantang mereka, yang kemudian memicu pemukulan terhadap Bintang.

“Pada hari Kamis (22/2) malam, para pelaku sempat mengobati luka-luka korban akibat pemukulan. Mereka juga sempat berniat untuk membawa korban ke rumah sakit. Tetapi tidak jadi,” kata Rini.

Informasi terbaru menyebutkan bahwa Bintang meninggal dunia di Rumah Sakit Arga Husada Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.

Hal ini diungkapkan oleh AF, salah satu pelaku yang kembali ke pondok dan melapor ke pengasuh PPTQ Al-Hanifiyyah Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Gus Fatih.

“Pada Jumat (22/2) jam 03.00 WIB si AF (sepupu korban) dibangunin. Diomongin, kok bintang tambah pucat. Lalu dibawa ke rumah sakit. Terus di rumah sakit ternyata kan meninggal,” ungkapnya.

Sebelumnya, santri bernama Bintang Balqis Maulana asal Banyuwangi meninggal usai dianiaya di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Korban meninggal pada Jumat (23/2) siang.

Kepolisian Kediri juga telah memberikan keterangan bahwa motif penganiayaan ini diduga karena adanya kesalahpahaman antara para pelajar. Namun, pihak kepolisian masih enggan memberikan rincian lebih lanjut terkait kesalahpahaman tersebut.

Keluarga Bintang, yang berada di Afdeling Kampunganyar, Dusun Kendenglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, menerima pesan terakhir dari Bintang melalui WhatsApp, yang meminta agar segera dijemput karena merasa takut.

Namun, mereka tak menduga bahwa itu akan menjadi pesan terakhir dari Bintang.

Pulangnya Bintang ke rumah pada Sabtu (24/2) membawa kesedihan mendalam bagi keluarga. Dia pulang dalam keadaan kaku tak bernyawa, menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Peristiwa tragis ini menjadi perhatian masyarakat luas, terutama terkait dengan kesejahteraan santri dan pengawasan di pondok pesantren.

Kasus ini juga memicu kecaman keras dari berbagai pihak terhadap tindakan kekerasan yang tidak bisa diterima, terlebih dalam lingkungan pendidikan dan agama.

Penyidikan lebih lanjut sedang dilakukan oleh pihak kepolisian untuk mengungkap secara menyeluruh motif dan kronologi kejadian ini serta memastikan keadilan bagi korban dan keluarganya.

Semoga kasus ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya penegakan hukum yang adil dan perlindungan bagi anak-anak di semua lapisan masyarakat. (Sumber : Detik News, Editor : KBO Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *