Kenaikan Harga Beras Capai 77 Persen, Sri Mulyani Ingatkan Potensi Dampak Inflasi di Indonesia

Foto : Menteri Keuangan (Sri Mulyani)

Keterbatasan Produksi dan Kampanye Pemilu Jadi Pendorong Mahalnya Harga Beras

KBOBABEL.COM (Jakarta) – Kenaikan harga beras di Indonesia telah mencapai titik yang mengkhawatirkan, dengan lonjakan sebesar 77 persen sejak awal tahun 2024. Menyikapi hal ini, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, memberikan peringatan akan potensi dampak yang bisa ditimbulkan, terutama dalam bentuk inflasi di Indonesia. Jumat (23/2/2024).

Meskipun catatan menunjukkan bahwa inflasi Indonesia saat ini masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, namun lonjakan harga beras menjadi salah satu faktor yang berpotensi menyumbang terhadap kenaikan inflasi.

Bacaan Lainnya

“Dalam catatan kita, kenaikan harga beras bulanan telah mencapai 7,7 persen year to date, dengan rata-rata harga mencapai Rp 15.175 per kilogram pada tanggal 21 Februari,” ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa, Kamis (22/2/2024). “Ini merupakan kontribusi signifikan terhadap inflasi volatile food dalam indeks inflasi kita.”

Bukan hanya harga beras, beberapa komoditas pangan lainnya juga mengalami kenaikan harga. Misalnya, harga cabai merah naik 17 persen, telur ayam naik 3,9 persen, daging ayam naik 2,2 persen, dan bawang putih naik 1,9 persen.

Sri Mulyani menyoroti pentingnya menjaga stabilitas harga-harga tersebut, terutama menjelang bulan Ramadan yang akan datang.

“Tentu ini menjadi tantangan menjelang Idul Fitri atau juga puasa Ramadan, maka volatile food harus bisa segera distabilkan agar headline inflation kita masih bisa terjaga rendah pada saat inflasi dunia dan negara maju juga mulai mengalami penurunan,” tambahnya.

Sementara itu, Sri Mulyani juga menyebutkan bahwa kondisi core inflation Indonesia masih tergolong rendah, yaitu sebesar 1,68 persen, sedangkan administered price inflation mencapai 1,74 persen.

Namun, inflasi volatile food mencapai 7,2 persen, menjadi perhatian utama pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Menanggapi kenaikan harga beras, Putu Rusta Adijaya, seorang peneliti bidang ekonomi dari The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), mengatakan bahwa faktor utama dari kenaikan tersebut adalah keterbatasan produksi beras di dalam negeri.

Menurutnya, perubahan iklim serta serangan penyakit dan hama telah menyebabkan produksi beras menjadi minim.

“Kenaikan harga beras di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor utama, termasuk fenomena iklim El Nino yang semakin diperburuk dengan pemanasan global. Hal ini menyebabkan kekeringan ekstrem sehingga petani di daerah penghasil beras gagal panen,” jelas Putu pada Kamis (22/2/2024).

Lebih lanjut, Putu juga menyoroti potensi pendorong lain dari kenaikan harga beras, yaitu kampanye Pemilu 2024.

Dia mengungkapkan bahwa kondisi pasokan beras yang terbatas dipengaruhi oleh pembelian besar-besaran beras oleh para calon legislatif untuk keperluan kampanye.

“Kampanye pemilu juga saya lihat sebagai faktor pendorong kenaikan harga beras. Dengan jumlah beras yang sedikit di pasar, berasnya diborong oleh para calon legislatif untuk keperluan kampanye,” ujarnya.

Belum lagi, program bantuan sosial (Bansos) yang gencar dilakukan pemerintah dalam rangka kampanye Pemilu 2024 juga menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong kenaikan harga beras.

Melihat kondisi ini, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas harga beras dan mencegah terjadinya lonjakan inflasi yang signifikan.

Kebijakan yang berkelanjutan dalam pengelolaan pasokan beras, pengendalian harga pangan, serta pengawasan terhadap spekulasi harga menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi negara. (Sumber Bangka Pos, Editor : KBO Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *