Petualangan Berujung Petaka: Kisah Tiga IRT Tersesat di Hutan Bakau, Minum Air Laut untuk Bertahan Hidup

Tiga IRT Tersesat di Hutan Bakau Desa Belo Laut: Bertahan dengan Minum Air Laut untuk Selamat

KBO-BABEL.COM (BANGKA BARAT) – Petualangan mencari siput berujung pada kisah bertahan hidup yang dramatis bagi tiga ibu rumah tangga (IRT) di Hutan Bakau Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Saimah (57), Omah (51), dan Sarni (50), warga Dusun Satu, Desa Air Belo Laut, tersesat dalam hutan yang lebat, jauh dari pesisir pantai hingga ke dalam hutan sejauh 5 kilometer. Keputusan untuk berpisah dari dua rekan mereka dalam mencari siput berujung pada petualangan yang menakutkan. Rabu (21/2/2024).

Bacaan Lainnya

Pada Selasa (20/2/2024), ketika sedang mencari siput berung di dalam hutan, ketiganya memutuskan untuk berpisah dengan dua rekan mereka.

Namun, mereka tersesat dalam hutan yang rimbun dan terganggu oleh hujan lebat. Selama bermalam di dalam hutan, mereka menghadapi kondisi yang sulit, dengan baju basah tanpa makanan dan minuman. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa meminum air laut yang tersedia di sekitar hutan bakau.

Saimah, salah satu dari tiga IRT yang tersesat, mengungkapkan bahwa mereka berpisah arah dengan dua teman mereka dan akhirnya tersesat.

Mereka terpaksa bermalam di dalam hutan, tidur di atas kayu bakau dengan kondisi baju basah dan menghidupkan api untuk menghangatkan badan.

Meskipun menghadapi kedinginan dan kelaparan, mereka bertahan dengan tekad yang kuat untuk selamat.

Ketiganya akhirnya ditemukan selamat pada Rabu (21/2/2024) pagi oleh warga setempat yang menyisir hutan.

Setelah ditemukan, mereka disambut dengan makanan dan minuman oleh warga yang peduli dengan kondisi mereka.

Kadus Satu, Desa Belo Laut, Damsah, mengungkapkan bahwa lokasi hutan tempat mencari siput sering kali menjadi tempat orang hilang atau tersesat.

Dia menekankan pentingnya kehati-hatian dan kesadaran akan risiko yang ada ketika mencari siput di dalam hutan bakau.

“Saya tidak tidur karena pakaian basah, tidur di atas kayu buruk di dalam hutan bakau dan lumpur,” kata Saimah.

Meskipun mengalami petualangan yang menakutkan, ketiganya bersyukur atas keselamatan mereka dan berterima kasih kepada warga yang membantu mereka dalam situasi sulit tersebut.

Kisah ini menjadi pelajaran bagi semua orang untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan risiko ketika melakukan petualangan di alam terbuka.

Ketika berada di lingkungan yang tidak familiar, penting untuk selalu mengutamakan keselamatan dan bekerja sama dengan rekan atau penduduk setempat yang lebih familiar dengan lingkungan tersebut. (Penulis : Zulfikar, Editor : Revan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *