Gegara Proyek Pengadaan CSD dan Washing Plant PT Timah Mantan Direktur Operasional Ditahan, Terungkap Modus Operandi dan Kerugian Negara Rp 29 Miliar

Dalam tahun 2018, Alwin Akbar bersama dengan Direktur Utama PT Timah, yang saat itu dijabat oleh Tersangka MRPT, serta Direktur Keuangan PT Timah, yang dijabat oleh Tersangka EE, disebut telah menyadari adanya penambangan liar yang merugikan perusahaan.
Foto : Alwin Albar Mantan Dirops PT Timah saat digiring ke Lapas Bukit Semut

KBO-BABEL.COM (BANGKA BELITUNG) – Skandal korupsi melibatkan proyek pengadaan CSD (cutting suction dredge) dan washing plant 2017 PT Timah Tbk semakin meruncing dengan ditetapkannya mantan Direktur Operasional, Alwin Albar, sebagai tersangka. Kasus ini kembali mengguncang Kejati Bangka Belitung (Babel), yang sebelumnya telah menetapkan Dr Ichwan Azwardi Lubis sebagai tersangka perdana. Kamis (4/1/2024).

Pemeriksaan terhadap Alwin Albar dilakukan pada pagi hari oleh penyidik Pidsus Kejati Babel. Hasil pemeriksaan menguatkan dugaan bahwa proyek tersebut merugikan keuangan negara sebanyak Rp 29 miliar. Pasca-pemeriksaan, Alwin Albar langsung ditahan dan dikirim ke sel Lapas Bukit Semut Sungailiat.

Bacaan Lainnya

Asintel Fadil Regan, dalam keterangan di sela-sela penahanan, menyatakan, “Kita tahan demi kepentingan penyidikan yang sedang berlangsung.” Penetapan tersangka kedua ini menjadi langkah signifikan dalam mengungkap jaringan korupsi di internal PT Timah.

Sebelumnya, Dr Ichwan Azwardi Lubis, selaku pimpinan proyek, juga telah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung dijebloskan ke dalam sel tahanan Tuatunu Pangkalpinang setelah pemeriksaan. Sementara itu, mantan Direktur Utama PT Timah Tbk, Mochtar Riza Pahlevi Thobrani (MRPT), juga telah menjalani pemeriksaan di Kejati.

Kajati Asep Maryono menjelaskan, “Saat ini -tahap perdana- penyidiknya menetapkan 1 dulu tersangka dari internal PT Timah. Seiring waktu nanti pengembangan penyidikan akan menambah lagi tersangka barunya.” Hal ini mengindikasikan bahwa kasus ini melibatkan lebih dari satu pelaku di dalam perusahaan plat merah tersebut.

Proyek senilai Rp 29 miliar tersebut diduga mengalami serangkaian masalah, mulai dari pengadaan mesin washing plant yang tidak sesuai spesifikasi hingga terungkapnya modus pengadaan dengan cara assembling. Mesin-mesin yang seharusnya bermasalah diyakini tidak mampu beroperasi secara normal, mengakibatkan gangguan pada operasional eksplorasi perusahaan.

Lebih lanjut, ternyata mesin-mesin tersebut tidak hanya memiliki masalah operasional, tetapi juga hilang entah ke mana. Mesin-mesin dari washing plant yang seharusnya menjadi inti proyek tersebut dilaporkan hilang dan tersebar di berbagai lokasi seperti Belitung, Belinyu, hingga Muntok. Hal ini menunjukkan tingkat kekacauan yang lebih besar dalam pengelolaan proyek PT Timah.

Dari informasi yang diterima wartawan, modus operandi seperti ini sudah lama berulang-ulang terjadi di perusahaan tersebut. Pengadaan dengan modus assembling, yang seharusnya melalui lelang, ternyata menjadi kebiasaan di bagian logistik PT Timah. Pembelian bagian-bagian mesin untuk dirakit sendiri dilakukan secara rutin dan dengan langganan khusus.

Skandal ini semakin mencuat dengan fakta bahwa hasil eksplorasi pasir timah di Tanjung Gunung tidak sesuai dengan klaim awal. PT Timah mengalami kerugian besar akibat hasil yang jauh di bawah harapan. Proyek CSD Tanjung Gunung saat ini tidak beroperasi, dan mesin-mesin yang seharusnya menjadi aset utama proyek hilang tanpa jejak.

Dalam menghadapi berita ini, Mochtar Riza Pahlevi Thobrani enggan memberikan komentar rinci, serahkan sepenuhnya pada proses hukum. Skandal korupsi proyek PT Timah ini semakin menjadi sorotan masyarakat, menimbulkan pertanyaan serius terkait tata kelola dan transparansi dalam perusahaan plat merah tersebut. (KBO Babel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *