Tragedi KDRT di Bangka Barat: Ayah Aniaya Anak Kandung hingga Teror Keganasan Berakhir

KBO-BABEL.COM (Bangka Barat) – Kecaman dan ketakutan melanda Desa Teluk Limau, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, ketika seorang ibu rumah tangga nekat melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang telah ia alami selama beberapa waktu. Namun, apa yang terjadi setelahnya adalah sebuah kisah yang penuh dengan kekejaman dan tragis.

Peristiwa mengerikan ini terjadi pada Rabu (4/10/2023) sekitar pukul 18.30 WIB, ketika suaminya yang dikenal dengan inisial HYI (40) mendapati istrinya telah kabur. Alih-alih mencari solusi yang bijak, HYI membiarkan kemarahannya membutakan dirinya dan berbalik untuk mengekspresikannya pada anak kandungnya yang masih berusia sangat muda, yang ditinggalkan oleh ibunya.

Bacaan Lainnya

Penganiayaan kejam yang dilakukan oleh HYI kepada anaknya sendiri terjadi di rumahnya, yang seharusnya merupakan tempat yang aman dan penuh kasih sayang. Namun, dalam momen mengerikan itu, rumah itu menjadi arena teror. HYI menangkap anaknya ketika dia berada di rumah seorang teman ibunya, dan dari sana, siksaan yang mengerikan dimulai.

“Saat itu, pelaku menganiaya korban secara membabi buta, dengan cara menyeret, membanting, memukuli, dan bahkan menggunakan alat berupa tombak udang untuk menghantam kepala korban,” kata Kapolsek Jebus AKP Yudha Prakoso, menggambarkan betapa kejamnya aksi HYI.

Kekejaman ini tidak berhenti di situ saja. HYI juga mengikat korban dan bahkan mencoba membakarnya. Beruntung, nyawa korban berhasil terselamatkan dari upaya membakar yang mengerikan tersebut. Meskipun selamat, korban mengalami luka-luka serius, termasuk memar, luka tusukan di kepala, serta luka bakar di punggung dan lengan. Selain fisik, korban juga mengalami trauma berat yang akan memerlukan waktu dan perawatan khusus untuk pulih.

Pihak kepolisian, melalui Unit Reskrim Polsek Jebus, segera merespons laporan ini dengan cepat dan tegas. Pada Jumat (6/10/2023) pukul 00.30 WIB, mereka berhasil mengungkap kasus ini sebagai tindak pidana kekerasan terhadap anak di bawah umur di Desa Teluk Limau, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat.

Setelah mencari informasi tentang keberadaan pelaku, polisi akhirnya berhasil menangkap HYI sekitar pukul 01.00 WIB di rumah seorang warga setempat. Dengan pengakuan dari pelaku sendiri, bahwa ia melakukan perbuatan mengerikan tersebut, polisi segera mengamankannya ke Polsek Jebus untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Dalam pemeriksaan awal, terungkap bahwa pelaku sering melakukan KDRT dan istrinya akhirnya melarikan diri dari rumah, meninggalkan anak mereka sebagai korban yang tidak bersalah. Namun, sebagai gantinya, anak ini menjadi pelampiasan kemarahan dan kekejaman ayahnya. Pelaku menganiaya anaknya dengan harapan bahwa istrinya akan kembali.

Atas tindakan keji ini, HYI harus menerima konsekuensi hukum yang berat. Dia dijerat dengan Pasal 44 ayat 2 Undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT, bersamaan dengan pasal 76 C Jo pasal 80 ayat 2 Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Hukumannya adalah penjara dengan masa tahanan hingga 15 tahun.

Peristiwa mengerikan ini mencerminkan perlunya kesadaran akan KDRT dan perlindungan yang lebih baik untuk korban-korban yang rentan. Semoga kasus ini menjadi pelajaran bagi kita semua tentang betapa pentingnya mengatasi masalah KDRT dan melindungi anak-anak dari kekerasan yang tidak bisa diterima. (Penulis : M. Taufik, Editor : Sinyu Pengkalpinang)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *